Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mitos Burung Kepodang. Mulai Tingkeban Hingga Pertanda Rejeki

Jauhar Yohanis • Kamis, 15 Mei 2025 | 22:05 WIB
Kepodang jawa (Oriolus chinensis). Banyak mitos menyertainya
Kepodang jawa (Oriolus chinensis). Banyak mitos menyertainya

JP Radar Kediri- Burung kepodang Jawa (Oriolus chinensis), dengan ulu kuning keemasan yang menyala berpadu dengan hitam legam pada sayap dan matanya menjadikan burung ini salah satu ikon keindahan fauna Indonesia.

Namun, pesona kepodang tak hanya terletak pada penampilannya. Di balik warna mencolok dan suaranya yang nyaring, burung ini diselimuti oleh berbagai mitos dan kepercayaan turun-temurun.

Simbol Keindahan dan Keharmonisan

Dalam budaya Jawa, burung kepodang kerap disebut sebagai simbol keindahan, kemakmuran, dan keharmonisan hidup. Hal ini tecermin dalam tradisi mitoni atau tingkeban — ritual tujuh bulanan kehamilan — di mana kepodang menjadi salah satu unsur simbolik.

Dalam beberapa keluarga tradisional, burung kepodang yang masih hidup akan dimasukkan ke dalam prosesi sebagai harapan agar sang bayi kelak menjadi pribadi yang rupawan, berbudi luhur, dan menawan seperti kepodang.

Tak hanya itu, bulunya yang berwarna emas diyakini membawa energi positif. Ada kepercayaan bahwa menyimpan bulu kepodang dalam dompet atau rumah bisa mendatangkan keberuntungan dan menolak bala. Meski terdengar mistis, keyakinan ini telah mengakar kuat di sebagian masyarakat pedesaan Jawa.

Mitos Sebagai Pertanda

Mitos lain menyebutkan bahwa kehadiran kepodang di sekitar rumah bisa menjadi pertanda tertentu. Jika burung kepodang tiba-tiba hinggap di halaman rumah dan berkicau nyaring, sebagian orang meyakini bahwa akan datang kabar baik atau rezeki tak terduga.

Sebaliknya, jika kepodang terlihat gelisah atau suaranya terdengar seperti "menangis", dianggap sebagai pertanda akan datangnya musibah atau berita duka.

Keyakinan semacam ini memang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Namun, dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi adat dan spiritualitas alam, burung-burung seperti kepodang memiliki tempat tersendiri sebagai penghubung antara manusia dan alam semesta.

Perburuan dan Ancaman Kelestarian

Sayangnya, di balik aura mistis dan keindahan yang melekat pada burung ini, kepodang Jawa justru menghadapi ancaman serius.

Permintaan pasar terhadap burung hias berkicau serta kepercayaan terhadap kekuatan mistis bulunya membuat kepodang menjadi salah satu burung yang diburu secara liar.

Tak jarang, ia ditangkap untuk dipelihara atau dijual, bahkan dijadikan pelengkap dalam ritual tertentu.

Antara Kepercayaan dan Konservasi

Perlu diakui bahwa mitos dan budaya lokal memiliki nilai historis dan sosial yang penting. Namun, jika tidak disertai dengan pemahaman ekologis, kepercayaan tersebut dapat berdampak negatif terhadap kelestarian spesies.

Edukasi mengenai pentingnya menjaga habitat burung kepodang dan mengurangi perburuan liar perlu terus digalakkan.

Beberapa komunitas pecinta burung di Jawa telah memulai langkah kecil seperti kampanye “Lestarikan Kepodang Tanpa Menyentuhnya” dan program adopsi pohon untuk menyediakan habitat yang layak.

Langkah ini menjadi jembatan antara pelestarian budaya dan pelestarian alam.

 

Editor : Jauhar Yohanis
#Tingkeban #tujuh bulanan #mitos #burung kepodang