Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Habis Gelap Terbitlah Terang, Refleksi Teman Pena Sebagai Salah Satu Support System Perjuangan Kartini

Redaksi Radar Kediri • Senin, 21 April 2025 | 22:39 WIB
Ilustrasi Kartini
Ilustrasi Kartini

JP Radar Kediri - Bertahun-tahun lalu ketika Belanda menguasai Indonesia yang belum merdeka, hidup seorang perempuan asal Jepara yang bernama Kartini.

Kartini lahir dengan darah campuran. Kebangsawanan didapatkan dari pihak ayah, sementara ibunya merupakan orang yang terbilang sangat biasa dan tidak terpandang pada zaman itu.

Sebagai wanita bangsawan, Kartini dididik untuk menjadi perempuan yang matang dan dapat menikah dengan laki-laki bangsawan lain.

Merasa peran perempuan sangat sempit pada saat itu, Kartini banyak melawan kebiasaan. Pendidikan serta baca tulis masih cukup jarang ditemukan pada saat itu. Beruntung, Kartini memiliki saudari dan saudara yang mendukungnya untuk terus bekembang. Termasuk Kartono. Kartono yang merupakan kakak laki-laki Kartini seringkali menghadiahi adiknya itu dengan buku-buku bacaan.

Karena akses bacaan serta surat kabar pada saat itu mayoritas menggunakan bahasa Belanda, maka Kartini pun belajar menggunakan bahasa Belanda. Buku yang ia baca pun semakin banyak. Bahkan, Kartini memperluas pertemanannya dengan mengirim surat berbahasa Belanda kepada sahabat penanya.

Buku bertajuk Habis Gelap Terbitlah Terang merupakan kumpulan surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya yang ada di Belanda. Kartini mendapatkan sahabat pena setelah melakukan berbagai pertemuan, melalui tulisan-tlisan dalam amjalah, dan berbagai cara lain.

Melalui surat itu, terpancar semangat dan gagasan-gagasan untuk memperjuangkan emansipasi wanita Indonesia. Pertukaran budaya pun dilakukan dalam percakapan melalui surat itu. Sementara sahabatnya membagikan bagaimana kondisi Eropa, Kartini menceritakan situasi Indonesia termasuk kondisi pendidikan yang masih belum inklusif.

Kartini banyak menuangkan perasaannya sebagai perempuan di Indonesia. Bagaimana laki-laki sangat dihormati, sementara perempuan hanya bertugas duduk manis di rumah dan dianggap tabu bila ikut urusan yang sering dikelola oleh laki-laki.

Melalui surat-surat tersebut pula Kartini menyampai progres perjuangannya untuk mengangkat derajat wanita Indonesia. 

Meskipun pada akhirnya Kartini tidak bisa menyaksikan hasil perjuangannya karena meninggal pasca melahirkan putranya, jasanya tidak dapat dilupan. Tak lama setelah ia meninggal, hak wanita perlahan-lahan naik dan mulai dihargai.

Dukungan dari sahabat-sahabat penanya juga menguatkan Kartini bahwa ia bisa mengubah keadaan berat para wanita Indonesia. Mereka membuat Kartini tidak merasa kecil dan memupuk kepercayaan diri bahwa wanita bisa melakukan banyak hal, tidak hanya di luar negeri saja, namun di Indonesia pun bisa diterapkan.

Penulis: Laila Karima

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel. 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#surat #kartini #Habis Gelap Terbitlah Terang #2025