Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Legenda Maling Aguno Kediri Dicinta Rakyat Jelata, Dibenci Bangsawan Tamak

Endro Purwito • Senin, 21 April 2025 | 06:27 WIB
Makam Boncolono di Kediri.
Makam Boncolono di Kediri.

JP Radar Kediri– Legenda pencuri budiman yang membagikan harta jarahannya pada rakyat miskin tidak hanya dilakoni Maling Gentiri di Kediri. Namun aksi ala Robin Hood di Inggris tersebut juga terdapat di wilayah Blitar, Jawa Timur. Masyarakat setempat mengenalnya dengan nama Maling Aguno.

   Sasarannya tuan tanah atau bangsawan kaya nanti tamak. Bak koruptor, mereka menumpuk harta tanpa peduli nasib rakyat jelata. Karenanya, meski melanggar hukum, rakyat kecil tetap mencintainya. Bagi orang kaya yang hartanya tak halal, sepak terjang

Maling Aguno tak hanya meresahkan, tapi juga menakutkan. Apalagi konon kesaktiannya bisa masuk batang pohon pisang.

   Maling Aguno mampu bergerak cepat seolah menghilang. Namun dalam kondisi terjepit, ia berani melawan dengan kedigdayaan pukulan mematikan serta tubuh kebal senjata tajam.

 Maling Aguno bisa menyelinap melalui lubang angin (ventilasi) atau lubang kunci yang tersorot cahaya.

Dalam satu kedipan mata, raganya tiba-tiba berpindah dalam rumah. Uang, perhiasan, permata dan harta berharga milik orang kaya diambil.

Sementara penghuni rumah terlelap tidur. Sampai Maling Aguno angkat kaki, penjaga rumah pun tak menyadari tempat tinggal majikannya dibobol pencuri.

   Kisah Maling Aguno tak hanya jadi cerita tutur (folklore) di Kabupaten Blitar. Namun juga diangkat kesenian ludruk yang populer di era 1980-an hingga 1990-an.

Pertunjukan itu  selalu memikat hati penonton, terutama yang tinggal di wilayah barat, perbatasan Kabupaten Kediri dan Tulungagung. Ini bukti bahwa kisah itu menciptakan jejak sejarah dan budaya masyarakat Blitar.

Bagi mereka, Maling Aguno bukan hanya sekadar pencuri, tetapi juga tokoh yang mewakili semacam pahlawan rakyat.

   Banyak kalangan meyakini keberadaan Maling Aguno tak sekadar legenda. Indikasinya ada kuburan yang diyakini makam Maling Aguno. Lokasinya di tebing Gunung Pegat, Desa Bagelenan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.

Persisnya, di bawah Situs Pertapaan Dewi Kilisuci, puncak Gunung Pegat setinggi 200 meter di atas permukaan laut. Makam  dilengkapi dua nisan tanpa nama atau angka tahun. Bagian pusaranya pun unik, bukan gundukan tanah, melainkan tumpukan batu candi.

  Konon, Maling Aguno merupakan anak Demang yang hidup di masa Sunan Kalijaga. Dia memiliki tiga nama. Kabarnya, pemberian nama Maling Aguno ada tiga versi. Dari kalangan santri dipanggil Syaikh.

Dari kalangan perguruan silat dipanggil Kalijirak. Sedangkan orang awam memanggil Maling Aguno atau menyebutnya Gunowaseto. Maknanya, apa yang dia curi berguna untuk orang lain.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira