Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mirip Tayuban, Tari Emprak Kisahkan Para Sinden yang Menghibur di Pasar Rakyat

Endro Purwito • Minggu, 13 April 2025 | 04:33 WIB

 

Photo
Photo

JP Radar Kediri- Siapa tidak kenal seni tari emprak yang asli dan khas Kabupaten Blitar?

Ya tarian kesenian rakyat ini memang hidup dan berkembang di Blitar. Utamanya di beberapa daerah seperti Nglegok, Srengat hingga Udanawu.

   Tari Emprak berasal dari kata emprak yang berarti pating klemprak atau berserakan dan nglemprak atau mengamen. Keseniannya mirip Tayuban yang ditampilkan berkeliling. Dari satu tempat ke tempat lain.

   Pertunjukan Emprak tidak menggunakan panggung. Namun, biasanya ditampilkan di pasar, pemukiman warga hingga pinggir jalan yang memiliki halaman luas. Pemain Emprak ada 7 hingga 10 orang. Terdiri atas 5 hingga 7 wiyaga laki laki dan 2 hingga 3 pesinden perempuan. Mereka dari desa sama. Masih terjalin hubungan kekerabatan satu sama lain.

   Meski tari tradisional, Emprak Blitar telah go internasional. Tari yang mengisahkan para sinden menghibur di pasar rakyat besutan Dimas Pramuka ini pernah tampil di Aratani Theater San Pendro St, Los Angeles.

   Kesenian Emprak mulai dipertunjukkan ke daerah-daerah di Blitar pada 1940. Kemudian tarian dikembangkan sekitar tahun 1991 lewat sanggar tari Gito Maron di Desa Maron, Kecamatan Srengat.

   Pertunjukan kesenian dilakukan melalui barangan dengan berpindah tempat. Munculnya tarian Emprak, dilakukan ketika  masa menunggu musim bercocok tanam dan panen yang identik sebagai pekerjaan buruh tani. Dalam setiap pertunjukkan, Emprak dimainkan oleh pemain dengan 2 hingga 4 gending. Di antaranya gending tayuban, gending dolanan, dan gending jaranan.

    Selama pertunjukan kesenian Emprak para pemain memainkan musik sesuka hati mereka sembari menunggu para warga berkumpul dan menyaksikan.

   Begitu pula dengan para pesinden melakukan tarian sesuai dengan keinginan mereka, misalnya memainkan sampur, menggerakkan tangan dengan lembehan dan gerakan pinggul egolan.

   Masyarakat berkumpul ketika suara musik dan tabuhan dari gamelan ataupun tembang mulai berkumandang dan terdengar suara nyanyian para pesinden yang menari sekaligus bernyanyi.

   Dalam penampilannya, pesinden seringkali diberi saweran berupa uang oleh para penonton yang ikut menari diiringi lantunan gamelan dan tembang yang berkumandang.

 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #tari tradisional #Seni Tari dan Budaya