Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengapa Ada Pisang Raja, Janur, dan Bunga Kantil dalam Tradisi Manten Tebu? Ternyata Ini Alasannya

Endro Purwito • Rabu, 2 April 2025 | 18:00 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri- Pasca kemerdekaan, festival seni rakyat dan tradisi selamatan menandai musim giling tebu mengalami perubahan.

Ada yang tetap dipertahankan, ada pula yang dimodifikasi. Seperti tayuban (tarian tayub), ketoprak, ludruk berganti panggung dangdut. Ada juga pasar malam untuk warga sekitar.

Kendati begitu, tradisi Manten Tebu masih dilestarikan. Sebab dalam ritualnya terpendam filosofi yang kuat. Yaitu mengawinkan batang tebu yang diberi nama Raden Bagus Rosan dan Dyah Ayu Roro Manis.

Itu menjadi ‘pernikahan’ simbolis antara tebu dihasilkan petani dan proses pengolahan pabrik gula. Sehingga antara PG dan petani terjalin hubungan baik. Dan, keberkahan panen bisa didapatkan bersama segenap masyarakat.

Selain bermakna simbolis yang kuat, pelaksanaan manten tebu juga berfungsi sebagai ajang mempererat hubungan sosial di antara masyarakat setempat.

Tradisi ini juga memberikan pelajaran tentang pentingnya kerjasama dan keselarasan antara manusia dengan alam serta antar sesama manusia dalam mencapai tujuan bersama.

Simbol yang digunakan dalam manten tebu dapat dibedakan beberapa kategori. Yakni simbol daun, buah, bunga, simbol tingkah laku, dan simbol alat.

Masing-masing memiliki makna dan peran penting dalam rangkaian upacara. Utamanya, mencerminkan nilai-nilai budaya dan kepercayaan masyarakat Jawa.

Simbol daun pisang, misalnya. Daun ini sering digunakan sebagai alas atau pelindung dalam berbagai ritual, melambangkan kesucian dan perlindungan.

Lalu, janur atau daun kelapa muda melambangkan kesucian dan harapan baru, sering digunakan dalam berbagai hiasan upacara.

Kemudian, daun sirih melambangkan kesucian dan digunakan dalam upacara adat sebagai simbol penghormatan dan kebaikan. Daun beringin melambangkan kekuatan dan ketahanan, mencerminkan harapan akan keberlanjutan dan keteguhan.

Sedangkan simbol buah dalam upacara ini juga memiliki makna mendalam. Seperti kelapa gading, misalnya. Buah ini melambangkan kesucian dan keberuntungan, sering digunakan sebagai simbol perlindungan dan kebersihan.

Lalu pisang raja. Pisang ini melambangkan kesuburan dan kemakmuran, serta harapan akan hasil panen yang melimpah.

Sementara simbol bunga yang digunakan terdiri atas bunga tiga warna, yakni merah, putih, dan kuning. Ada bunga mawar yang melambangkan cinta dan kesucian. Melati, melambangkan kemurnian, kesederhanaan, dan kesucian hati.

Ada pula bunga Kantil, yang melambangkan harapan dan doa untuk kesejahteraan serta keberkahan.

Tak ketinggalan Air. Ini adalah simbol penting dalam upacara, melambangkan kesucian, kehidupan, dan penyucian diri.

Air digunakan dalam berbagai tahapan ritual untuk membersihkan dan menyucikan segala sesuatu yang terlibat dalam prosesi.

Selain itu, prosesi manten tebu juga memerlukan piranti atau alat-alat yang akan digunakan dalam upacara.

Itu meliputi bokor kencana, sebuah wadah atau tempat khusus yang digunakan untuk menyimpan berbagai simbol upacara, melambangkan kemewahan dan keagungan.

Kemudian telur yang melambangkan kelahiran baru, kehidupan, dan kesuburan, digunakan dalam ritual untuk menyimbolkan awal yang baru dan harapan akan keberlanjutan.

Setiap simbol dalam upacara manten ini memiliki makna tersendiri dan berkontribusi pada keseluruhan makna dan tujuan dari tradisi tersebut. Simbol-simbol ini bukan hanya hiasan, tetapi juga bagian integral dari kepercayaan dan harapan masyarakat

Jawa akan panen yang melimpah, kehidupan yang sejahtera, serta hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam dan leluhur.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #jawa pos radar kediri #adat jawa #berita hari ini #manten tebu #Janur #sejarah #festival seni #pisang raja #tradisi