Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tradisi Manten Tebu Jadi Simbol Kolaborasi Petani dengan Pabrik Gula

Endro Purwito • Selasa, 1 April 2025 | 22:30 WIB
Ilustrasi Ladang Tebu
Ilustrasi Ladang Tebu

JP Radar Kediri- Ada tradisi unik dalam aktivitas buka giling pabrik gula Jawa Timur. Bahkan telah menjadi ritual wajib sejak awal pendirian pabrik gula era kolonial Belanda. Ini dilakukan para pekerja dan pengelola pabrik gula untuk memohon keselamatan dan agar hasil produksi gula melimpah.

Seperti tradisi manten tebu yang hingga kini masih bertahan. Selain tanaman tebu yang akan dinikahkan, ada juga penempatan pohon pisang dengan tandan pisangnya. Ini layaknya orang ngunduh mantu.

Ritual itu biasanya dilakukan saat memasuki musim giling, yaitu masa ketika tebu mulai dipanen dan diolah menjadi gula. Kata “manten” dalam tradisi petik tebu manten merujuk pada konsep manten atau pengantin, yaitu sepasang individu berbeda jenis kelamin yang melangsungkan akad nikah. Dalam konteks ini, tradisi petik tebu manten mengadopsi simbolisme pernikahan manusia untuk melambangkan penyatuan dua batang tebu dalam sebuah ritual sacral.

Seperti dalam upacara pernikahan, tradisi manten tebu dipenuhi berbagai tatanan dan aturan yang harus dilaksanakan dengan teliti dan penuh perjuangan. Setiap tahap dalam upacara ini memiliki makna mendalam dan penting bagi keberhasilan serta keberkahan prosesi tersebut.

Masyarakat Jawa memegang teguh keyakinan bahwa setiap elemen dalam ritual ini tidak boleh diabaikan atau dilewatkan, karena kelalaian terhadap satu bagian saja dianggap dapat membawa nasib buruk atau ketidakberuntungan.

Prosesi dimulai dengan pemilihan dua batang tebu yang akan dijadikan simbol utama dalam upacara.Tebu manten diambil dari tanaman berkualitas terbaik. Dua batang tebu ini kemudian diberi nama yang sarat dengan makna historis dan budaya, yaitu Raden Bagus Rosan dan Dyah Ayu Roro Manis, yang menggambarkan pasangan pengantin.

Melalui penamaan tersebut, tradisi manten tebu menggambarkan ‘pernikahan’ simbolis antara tebu yang dihasilkan petani dan proses pengolahan yang dilakukan pabrik gula. Filosofinya adalah mengawinkan Raden Bagus Rosan dan Dyah Ayu Roro Manis. Itu sekaligus menjadi simbol perkawinan antara PG dan Petani agar tetap berhubungan baik, sehingga keberkahan panen bisa didapatkan bersama segenap masyarakat.

Seluruh tahapan dalam ritual ini dilakukan dengan penuh kepercayaan dan penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Prosesi ‘pernikahan’ simbolis ini juga diiringi dengan doa-doa yang dipanjatkan untuk memohon berkah dan kelancaran dalam musim giling yang akan dijalani.

Dengan demikian, tradisi ini bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi wujud nyata dari harapan dan doa masyarakat agar hasil panen tebu melimpah dan produksi gula berjalan sukses.

Selain memiliki makna simbolis yang kuat, pelaksanaan petik tebu manten juga berfungsi sebagai ajang untuk mempererat hubungan sosial di antara masyarakat setempat. Generasi muda pun diajak turut serta dan memahami pentingnya menjaga serta melestarikan tradisi ini, sehingga nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup dan berkembang di tengah-tengah mereka.

Tradisi ini juga memberikan pelajaran tentang pentingnya kerja sama dan keselarasan antara manusia dengan alam serta antar sesama manusia dalam mencapai tujuan bersama.

Dengan pelaksanaan yang konsisten setiap tahun, tradisi manten tebu terus menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat yang terlibat dalam industri gula. Tradisi yang kaya akan makna dan sejarah ini mampu menyatukan masyarakat dalam semangat gotong royong dan kebersamaan, serta meneguhkan komitmen untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya yang berharga.

 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#petani #manten tebu #pabrik gula #tebu #kolaborasi