JP Radar Kediri- Pelaksanaan Tawur Agung Kesanga di Kota Kediri kemarin berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Yaitu, Kota Tahu jadi pusat kegiatan ritual tersebut di wilayah Jawa Timur.
Alasan Kota Kediri jadi pusat pelaksanaan Tawur Kesanga karena beberapa alasan. Yang paling utama adalah Kediri dianggap sebagai awal mula peradaban Nusantara.
“Kediri ini adalah salah satu tempat di mana peradaban Nusantara dimulai. Jadi seluruh ide besar penyatuan Nusantara hingga terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, salah satunya yang memegang peran penting saat itu adalah Kediri,” kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jatim I Gusti Putu Raka Arthama, ditemui di lokasi pawai ogoh-ogoh kemarin sore.
Pelaksanaan Tawur Agung Kesanga kemarin diwarnai hujan yang terus mengguyur sejak pagi. Namun, tak mengurangi khidmatnya acara. Ratusan umat Hindu berbaur dalam rangkaian acara perayaan Hari Raya Nyei 1947 Caka itu.
Salah satu yang hadir dalam perayaan itu adalah Wali Kota Vinanda Prameswati. Yang mengaku bangga menyaksikan rangkaian hari besar umat Hindu tersebut. Sekaligus menunjukkan Kota Kediri dengan keberagaman agama dan budaya tapi bisa hidup berdampingan secara rukun dan damai.
“Saya berharap kerukunan dan toleransi ini bukan hanya label semata. Tetapi merupakan sebuah nilai yang harus sama-sama kita resapi dan hidupkan dalam kehidupan sehari-hari,” tandas Vinanda.
Masih menurut wali kota, perayaan Nyepi kali ini bertepatan dengan Ramadan. Menurutnya, pelaksanaan Nyepi dan puasa Ramadan mengusung nilai serupa. Yaitu bagiamana melatih diri dari hawa nafsu serta mengurangi ketamakan.
Rangkaian Tawur Kesanga juga diwarnai pawai ogoh-ogoh. Yang diarak menuju Pura Agung Kilisuci yang ada di kawasan Goa Selomangleng.
Setelah itu ogoh-ogoh yang menjadi simbol butakala dan sifat buruknya itu dibakar. Pembakaran itu menjadi simbol menghapuskan sifat-sifat buruk dalam diri umat sebelum menghadapi ibadah Nyepi.
Ketua PHDI Kota Kediri Ni Made Susilawati mengatakan, pelaksanaan Tawur Agung Kesanga tahun ini terasa lebih istimewa. Sebab, pihaknya berkolaborasi dengan pengurus PHDI Jawa Timur dalam mengadakan Tawur Agung Kesanga tingkat provinsi. Dan Kota Kediri menjadi tuan rumahnya.
“Karena Kota Kediri dianggap kota tertua dan bersejarah,” ujarnya sembari menyebut, hal itu juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi umat Hindu di Kota Kediri.
Dia menerangkan, Tawur Agung Kesangan juga dimaknai sebagai upaya mengharmonisasikan tiga elemen. Yaitu harmonisasi antara umat dengan Tuhan, umat dengan alam, serta umat dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan.
“Tawur Agung Kesanga juga untuk menyucikan alam beserta isinya dan bersinergi dengan alam. kita sebagai manusia yang hidup di bumi, harus merawat bumi ini dengan baik,” tandasnya sembari menyebut, setelah upacara itu lalu dilanjutkan dengan prosesi catur brata penyepian yang dimulai pagi ini.
Sementara, pawai ogoh-ogoh juga berlangsung di wilayah Monumen Tugu Garuda, Pare. Acara ini digelar oleh PHDI Kabupaten Kediri. Ribuan warga memadati area Tugu Garuda Pare, menyaksikan belasan ogoh-ogoh yang juga diperlombakan.
Ketua PHD) Kabupaten Kediri Yuliono menjelaskan, pawai ogoh-ogoh merupakan bagian dari upacara Tawur Agung Kesanga. "Konsepnya sama, yaitu membersihkan alam sekitar agar suasana Nyepi menjadi lebih tenang dan nyaman," ungkap Yuliono.
Sebanyak 14 ogoh-ogoh dari berbagai kecamatan di Kabupaten Kediri turut serta dalam pawai ini. Parade dimulai dari Tugu Garuda dan berakhir di Stadion Canda Bhirawa Pare.
Setiap ogoh-ogoh dirancang dengan detail dan kreativitas tinggi, menggambarkan sosok raksasa menyeramkan yang melambangkan Sang Butha, simbol kejahatan serta sifat buruk manusia yang perlu disingkirkan.
Dalam proses pembuatannya, Yuliono juga melibatkan generasi muda. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menjaga kelestarian seni dan budaya Hindu di tengah era modernisasi.
"Kami memberikan ruang bagi anak-anak muda agar seni dan budaya tetap bertahan dan tidak tergerus zaman," ujarnya.
Antusiasme masyarakat Kabupaten Kediri, khususnya di wilayah Pare dan sekitarnya, sangat tinggi terhadap pawai ini. Puncak acara ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Tawur Agung Kesanga menjelang Hari Raya Nyepi.
Yuliono menambahkan bahwa dalam pelaksanaannya, pihaknya juga mempertimbangkan kenyamanan umat beragama lain. Mengingat pawai bertepatan dengan hari Jumat, maka jadwalnya telah disesuaikan agar tidak mengganggu pelaksanaan salat Jumat. Prosesi Tawur Agung Kesanga pada malam harinya juga baru dimulai setelah salat tarawih selesai.
"Dalam acara ini, banser, pemuda gereja, dan berbagai pihak turut membantu pengamanan, mencerminkan semangat toleransi yang kuat," pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira