Jelang puncak peringatan Hari Jadi ke-1.221 Kabupaten Kediri yang jatuh hari ini, prosesi pengambilan air dari tujuh sumber sudah kelar dilakukan.
Terakhir adalah pengambilan air dari Sungai Harinjing, di Desa Siman Kecamatan Kepung.
Bagian akhir dari rangkaian pengambilan air untuk ritual pembasuhan tersebut dilakukan kemarin (24/3).
“Alhamdulillah hari ini kami melaksanakan pengambilan air suci. Ini merupakan rangkaian kegiatan dalam menyambut Hari Jadi Kabupaten Kediri,” ucap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Adi Suwignyo, melalui Kabid Sejarah dan Purbakala Eko Priyatno.
Eko menjelaskan, pengambilan air dari Sungai Harinjing merupakan puncak dari rangkaian kegiatan serupa di tujuh titik.
Setelah ini air tersebut dikumpulkan jadi satu. Kemudian digunakan dalam prosesi pembasuhan yang akan berlangsung sore nanti di (25/3) Pendapa Kabupaten Kediri.
Rangkaian pengambilan air tersebut sudah berlangsung sejak Februari. Lokasinya di tujuh sumber air yang ada di Kabupaten Kediri. Yaitu di Sendang Kamulyan Badas; Sumber Kembangan Paron, Ngasem; di makam Gus Miek Desa Ngadi, Mojo; Sumber Sugihwaras, Ngadiluwih; Sendang Tirta Kamandanu Desa Menang, Pagu; kawasan situs Adipati Panjer, Desa Panjer, Plosoklaten; dan terakhir di Sungai Harinjing.
Pengambilan di Sungai Harinjing paling akhir karena sebagai punjer atau pusat lahirnya Kediri. Sebagaimana tertulis dalam Prasasti Harinjing yang berasal 804 Masehi.
“Mata air di Desa Siman memiliki nilai historis sehingga lokasi ini dipilih sebagai tempat terakhir dalam prosesi pengambilan air suci,” jelasnya.
Eko menambahkan, esensi peringatan hari jadi ada dua. Pertama, sebagai wujud rasa syukur atas perjalanan panjang Kediri yang telah mencapai usia 1.221 tahun. Kedua, sebagai motivasi untuk terus membangkitkan semangat jati diri Kediri.
Rangkaian kegiatan di Desa Siman kemarin berlangsung di tiga titik. Tempat pertama adalah titik nol Kediri, yaitu Kebon Sukabumi. Tempat ini adalah tempat ditemukannya Prasasti Harinjing.
Tempat kedua adalah Punden Mbah Gurit. Merupakan lokasi Prasasti Bagor Prada, yang juga bagian dari penemuan Prasasti Harinjing pada 1913. Berikutnya, pengambilan air dari Sungai Harinjing.
"Ketiga tempat ini memiliki keterkaitan erat dengan Prasasti Harinjing," jelas Eko.
Setelah air dari tujuh sumber air terkumpul, prosesi selanjutnya adalah penyatuan. Hingga membentuk simbol empat arah dengan satu penjuru.
Ritual ini menjadi simbol keseimbangan dan persatuan yang sejalan dengan tema peringatan HUT ke-1.221 yaitu Sinergi dalam Bhinneka, Membangun Kediri Berbudaya.
"Harapannya, Kediri yang beragam ini dapat terus bersinergi dalam membangun kebudayaan dan kemajuan bersama," tambahnya.
Acara penyatuan akan berlangsung di Pendapa Panjalu Jayati hari ini (25/3). Air yang telah disatukan itu digunakan untuk membasuh kaki kepala daerah dan para pejabat pemkab.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira