Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melasti di Bulan Suci, Ratusan Umat Hindu Kediri Larung ‘Kekotoran’ di Sungai Brantas

Ayu Ismawati • Senin, 24 Maret 2025 | 04:53 WIB
Tahun ini  perayaan Hari Raya Nyepi bersamaan dengan pelaksanaan puasa Ramadan.
Tahun ini perayaan Hari Raya Nyepi bersamaan dengan pelaksanaan puasa Ramadan.

KOTA, JP Radar Kediri- Jatuhnya perayaan Nyepi di saat umat Muslim melaksanakan puasa Ramadan dianggap sebagai berkah tersendiri oleh umat Hindu. Sekaligus menguatkan rasa toleransi antarumat beragama.

Tahun ini  perayaan Hari Raya Nyepi bersamaan dengan pelaksanaan puasa Ramadan. Yaitu pada 29 Maret. Sementara kemungkinan Idul Fitri akan jatuh pada 31 atau dua hari setelahnya.

“Tentunya ini anugerah buat kami. Yang mana kami melaksanakan Melasti ini dalam situasi bulan suci Ramadan. Yaitu saudara kami (umat muslim) melaksanakan puasa. Kemudian Taur Agung Kesanga tanggal 28, saudara kami juga masih melaksanakan puasa,” kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kediri Ni Made Susilawati.

Dengan pelaksanaan yang beririsan itu, menurutnya, justru menambah semangat toleransi antarumat beragama. Khususnya di Kota Kediri.

“Ini suatu anugerah dan berkat dari Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa inilah ciptaan Tuhan yang berbeda, namun tujuannya sama. Kita sama-sama memuja Tuhan Yang Maha Kuasa,” tandas perempuan yang juga salah satu pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Kediri itu.

Sementara itu, kemarin, ratusan umat Hindu Kota Kediri melaksanakan upacara Melasti. Rangkaian dari Hari Raya Nyepi 1947 Caka itu digelar di parkiran Taman Brantas.

Ditandai dengan larung sesaji ke Sungai Brantas dengan tujuan menyucikan diri sebelum melaksanakan Nyepi.

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, umat Hindu mulai memasuki area upacara sekitar pukul 08.45. Musik gamelan khas Bali juga mengalun selama prosesi ibadah tersebut.

Menurut Ni Made Susilawati, upacara Melasti dilakukan untuk membersihkan Bhuana Alit dan Bhuana Agung.

Bhuana Alit dalam kepercayaan Hindu artinya membersihkan diri sendiri dari kekotoran yang diperbuat selama setahun terakhir. Sedangkan Bhuana Agung adalah membersihkan alam semesta.

“Harapannya alam beserta manusia disucikan kembali,” ujarnya.

Adapun upacara itu dipimpin Pedanda Ida Pandita Misnawat Maja Nirmala. Sebelum memasuki puncak upacara dengan melarung sesaji ke Sungai Brantas, umat juga menampilkan tari Rejang Anyar.

Yaitu, tari sakral untuk memuja dewa-dewi di surga. Di sela-sela tarian itu, beberapa umat juga melangsungkan proses memutari api. 

“Memutari api itu simbol dari butakala supaya tidak kembali. Dia dilarung kan jadi tidak akan kembali,” terang Made.  

Di puncak upacara itu, umat Hindu pun mulai melarung sesaji ke Sungai Brantas serta menyucikan Pratima yang ada di Pura Penataran Agung Kilisuci.

Larung itu disimbolkan sebagai bentuk rasa syukur umat sekaligus pembersihan diri.

“Ini menghilangkan kotoran. Jadi filosofi larung sesaji ini melarung kekotoran-kekotoran yang ada selama ini. Yang ada di diri kita maupun di alam. Sehingga nanti pada saat Nyepi kita betul-betul suci hati, suci diri sendiri, dan suci alam,” pungkasnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel. 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #perayaan nyepi #nyepi 2025 #Umat Hindu Kediri #melasti