Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pemakaman Langit, Begini Sejarah Tradisi Pemakaman Ekstrem yang Ada di Tibet

Ilmidza Amalia Nadzira • Senin, 24 Maret 2025 | 04:41 WIB
Pemakaman Langit, Begini Sejarah Tradisi Pemakaman Ekstrem yang Ada di Tibet
Pemakaman Langit, Begini Sejarah Tradisi Pemakaman Ekstrem yang Ada di Tibet

JP Radar Kediri – Tibet adalah sebuah daerah otonom di Republik Rakyat Tiongkok yang terletak di penggunungan Himalaya. Bahkan, Tibet berbatasan langsung denga Gunung Everest, puncak tertinggi di Dunia yang berada di perbatasan Nepal dan Tibet.

Di Tibet, mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha. Disana, ada sebuah tradisi yang telah dilakukan di sejak 11.000 tahun yang lalu. Dimana tradisi ini masihlah terus dilanjutkan dari generasi ke generasi,sampai saat ini.

Tradisi tersebut adalah Sky Burial atau yang dikenal juga dengan nama Pemakaman Langit. Tradisi ini merupakan salah satu tradisi pemakaman yang ekstrem.

Sebab dalam pemakaman ini, jenazah tidak di kremasi ataupun dikuburkan, melainkan diberikan kepada burng Nasar yang dikenal sebagai burung pemakan bangkai.

Dalam Bahasa Tibet, burung nasar disebut dengan Dakini, yang memiliki arti Penari Langit. Masyrakat Tibet meyakini bahwa burung nasar adalah reinkarnasi dari malaikat, yang berperan untuk mengambil arwah jenazah dan menghantarkannya naik ke surga.

Disanalah, para arwah akan menunggu reinkarnasi mereka di kehidupan berikutnya.

Dalam agama Buddha, penganutnya pervaya akan reinkarnasi atau kelahiran kembali pada kehidupan selanjutnya dimasa mendatang bagi mereka yang telah meninggal.

Kondisi tanah yang dipenuhi dengan bebatuan dan keras serta bahan bakar dan kayu yang minim disana juga turut menjadi alasan mengapa jenazah-jenazah tidak dikuburkan atau dikremasi.

Mengapa dinamakan pemakaman langit? Sebab, lokasi diadakannya ritual pemakaman tersebut dilakukan di dataran tinggi seperti bukit atau gunung.

Namun, Tidak semua jenazah dapat dimakamkan dengan ritual ini, hanya jenazah tertentu saja, seperti jenazah tidak boleh berada dibawah usia 18 tahun, wanita yang meninggal dalam keadaan hamil, mereka yang meninggal karena sebuah penyakit atau kecelekaan.

Biasanya ritual akan dilaksanakan sebelum fajar. Jenazah akan dibawa ke dataran tinggi kemudian dilepas pakaiannya.

Kemudian, satu persatu bagian tubuh jenazah pun akan dipotong atau dimutilasi menggunakan kapak atau parang. Kemudian, akan dipisahkan bagian daging, organ dalam dan tulang.

Karena tulang manusia keras, maka tulang akan dihancurkan dan dicampurkan dengan tepung barley atau masyarakat sana juga menyebutnya dengan ‘tsampa’.

Setelah tercampur rata, adonan tersebut akan disebar ke tanah bersamaan dengan daging jenazah lainnya. Burung-burung nasar yang sudah berada di sekitar tempat ritual pun mulai mendekat dan memakan adonan tulang, organ dalam, kemudian daging dari jenazah tersebut.

Masyarakat percaya, agar arwah jenazah bisa terbawa sepenuuhnya ke surga maka seluruh anggota tubuh jenazah haru dimakan seluruhnya tanpa sisa.

Masyaraat Tibet juga percaya, dengan menyerahkan tubuh mereka untuk mahluk lain adalah perbuatan baik terkahir yang bisa mereka lakukan setelah meninggal dunia.

Salah satu dari sedikitnya kuil Buddha di dunia yang masih melakukan ritual pemakaman ini adalah Drigung Monastrey di Tibet.

Penulis : Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #Sky Burial #Ritual Pemakaman #pemakaman langit tibet #tibet #burung nasar #reinkarnasi