JP Radar Kediri - Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat melaksanakan tradisi balimau yaitu sebuah ritual mandi menggunakan air yang dicampur dengan jeruk nipis dan berbagai bunga wangi. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun sebagai simbol penyucian diri, baik lahir maupun batin, sebelum memasuki periode ibadah puasa.
Baca Juga: Jejak Ramadan di Nusantara: Mattunu Solong, Cahaya Pelita sebagai Harapan dan Perlindungan
Balimau biasanya dilakukan sehari sebelum Ramadan. Masyarakat berbondong-bondong menuju sungai, pemandian umum, atau sumber air lainnya untuk melaksanakan ritual ini. Air yang digunakan dicampur dengan perasan jeruk nipis dan bunga-bunga seperti kenanga, mawar, tanjung, dan melati, yang dipercaya dapat membersihkan tubuh serta memberikan kesegaran dan aroma harum.
Baca Juga: Jejak Ramadan di Nusantara, Malamang Tradisi Masak Lemang yang Penuh Kebersamaan!
Selain di Sumatera Barat tradisi serupa juga ditemukan di Provinsi Riau khususnya di Kabupaten Kampar dengan sebutan "Balimau Kasai". Di daerah ini masyarakat menambahkan kasai yaitu ramuan wangi-wangian alami yang digunakan untuk membersihkan rambut dan tubuh. Balimau Kasai menjadi momen penting untuk membersihkan diri sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga menjelang Ramadan.
Baca Juga: Khutbah Jumat Menyambut Bulan Suci Ramadan 2025
Namun seiring perkembangan zaman tradisi balimau menghadapi berbagai tantangan. Beberapa kalangan mengkritik pelaksanaannya yang kerap bercampur antara laki-laki dan perempuan di tempat pemandian umum, yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Kontroversi ini memicu diskusi mengenai relevansi dan pelaksanaan tradisi balimau di era modern.
Baca Juga: Jejak Ramadhan di Nusantara, Pacu Jalur, Mendayung Persatuan sebelum Ramadan
Meskipun begitu balimau tetap menjadi bagian yang tidak dapat terlepas dari budaya Minangkabau. Bagi banyak orang tradisi ini bukan hanya sekadar ritual mandi tetapi juga sarana untuk introspeksi dan memperbaiki diri sebelum memasuki bulan penuh berkah. Selain itu balimau berperan dalam memperkuat ikatan sosial dan menjaga warisan budaya leluhur.
Baca Juga: Jelang Ramadan, Pesanan Hampers di Kediri Mulai Dilirik
Dalam konteks pariwisata balimau memiliki potensi sebagai daya tarik budaya. Pemerintah daerah dan komunitas setempat dapat mengemas tradisi ini sebagai bagian dari wisata religi, dengan tetap menjaga nilai-nilai dan norma yang berlaku. Dengan demikian, balimau dapat terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda serta wisatawan domestik maupun mancanegara.
Editor : Miko