Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jejak Ramadan di Nusantara: Mattunu Solong, Cahaya Pelita sebagai Harapan dan Perlindungan

Arif Miftaqhul Huda • Sabtu, 22 Februari 2025 | 02:10 WIB

ilustrasi pelita sederhana
ilustrasi pelita sederhana

JP Radar Kediri – Masyarakat di Sulawesi Barat, khususnya di Kabupaten Polewali Mandar, memiliki tradisi khas dalam menyambut bulan suci Ramadan yang dikenal sebagai Mattunu Solong. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan serta kebersamaan antarwarga.

Baca Juga: Festival Jenang Solo jadi Awal Mula Sejarah Keraton Surakarta, Simak Ceritanya

Mattunu Solong dilakukan dengan menyalakan pelita tradisional yang terbuat dari bahan alami. Pelita ini, yang juga disebut solong, dirakit dari potongan bambu yang dililit dengan kapuk serta dihiasi dengan buah kemiri. Setiap elemen dalam pelita memiliki makna simbolis, mencerminkan harapan agar cahaya kebajikan menerangi hati setiap orang menjelang Ramadan.

Proses pembuatan pelita melibatkan keterampilan serta kerja sama antarwarga. Mereka secara bergotong royong mengumpulkan bahan-bahan seperti bambu, kapuk, dan kemiri, lalu merakitnya menjadi pelita yang rapi dan indah. Lebih dari sekadar kegiatan persiapan Ramadan, tradisi ini juga menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi antaranggota masyarakat.

Baca Juga: Sejarah dan Jenis-Jenis Gamelan Jawa

Makna utama dari Mattunu Solong terletak pada simbolisme cahaya. Masyarakat meyakini bahwa dengan menyalakan pelita di pagar, halaman, atau pintu masuk rumah, cahaya tersebut akan membawa keberkahan serta perlindungan dari Sang Pencipta. Ritual ini juga dimaknai sebagai bentuk penyucian diri dan persiapan menyambut bulan penuh ibadah dengan hati yang lebih bersih dan terang.

Selain memiliki dimensi keagamaan, Mattunu Solong juga berperan dalam memperkuat aspek sosial dan budaya. Tradisi ini melibatkan berbagai generasi, dari yang tua hingga yang muda, sehingga menciptakan rasa kebersamaan serta memperkokoh identitas budaya masyarakat Polewali Mandar.

Baca Juga: Jejak Ramadan di Nusantara, DugderanSimbol Spirit Beragama dari Semarang

Namun, di era modern, pelestarian Mattunu Solong menghadapi tantangan tersendiri. Dukungan dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, komunitas lokal, maupun masyarakat luas, sangat diperlukan agar tradisi ini tetap lestari dan terus diwariskan kepada generasi mendatang. Lebih dari sekadar ritual menyambut Ramadan, Mattunu Solong adalah simbol kebersamaan dan warisan budaya yang patut dijaga dan dibanggakan.

Editor : Miko
#Mattunu Solong #budaya #polewali mandar #sulawesi barat #cahaya pelita #ramadan #tradisi