Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tuban, Dari Legenda Sakit Perut hingga Kota Pelabuhan yang Berjaya

Radar Kediri • Senin, 3 Februari 2025 | 02:16 WIB

Potret Alun-alun Toeban (Tuban) dari atas udara.
Potret Alun-alun Toeban (Tuban) dari atas udara.

JP Radar Kediri - Tuban, sebuah kota di pawasan pesisir utara Jawa Timur, menyimpan sejarah panjang yang diawali dengan cerita-cerita legenda. Salah satu legenda yang paling populer mengisahkan tentang seorang putri bernama Dewi Ayu Lembu Taloko. Konon, sang putri mengalami sakit perut yang parah, dan dalam bahasa Jawa, sakit perut disebut "metu banyune" (keluar airnya). Dari frasa inilah kemudian muncul nama "Tuban", yang diyakini sebagai kependekan dari "metu banyune".

 

Pemukiman Pertama dan Perkembangannya

Setelah sembuh dari sakitnya, Dewi Ayu Lembu Taloko dikisahkan mendirikan sebuah pemukiman di daerah tersebut. Pemukiman ini kemudian berkembang menjadi sebuah desa yang ramai, dan lambat laun tumbuh menjadi kota. Legenda ini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Tuban, yang hingga kini masih diingat oleh masyarakat setempat.

 

Tuban dalam Catatan Sejarah Kuno

Selain legenda, nama Tuban juga tercatat dalam beberapa prasasti dan naskah kuno. Pada era Kerajaan Majapahit, Tuban dikenal sebagai salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa. Pelabuhan ini menjadi pusat perdagangan rempah-rempah, kayu, dan komoditas lainnya yang diperdagangkan antara Jawa dan wilayah lain di Nusantara, bahkan hingga ke mancanegara.

 

Peran Tuban sebagai Kota Pelabuhan

Sebagai kota pelabuhan, Tuban memegang peranan strategis dalam lalu lintas perdagangan laut. Letaknya yang berada di jalur perdagangan antara Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Maluku membuat Tuban menjadi tempat persinggahan para pedagang. Hal ini juga memengaruhi perkembangan budaya dan sosial masyarakat Tuban, yang menjadi lebih terbuka terhadap pengaruh luar.

 

Hubungan dengan Kerajaan Majapahit

Pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, Tuban menjadi salah satu wilayah penting yang mendukung kekuasaan kerajaan. Pelabuhan Tuban digunakan sebagai pintu masuk bagi kapal-kapal yang membawa barang dagangan dan upeti untuk kerajaan. Selain itu, Tuban juga menjadi tempat berkumpulnya para saudagar dan pelaut dari berbagai daerah.

 

Potret Alun-alun Toeban (Tuban) diatas udara saat malam hari.
Potret Alun-alun Toeban (Tuban) diatas udara saat malam hari.

Pengaruh Islam di Tuban

Tuban juga dikenal sebagai salah satu kota awal penyebaran Islam di Jawa. Pada abad ke-15, Tuban menjadi pusat dakwah Islam, terutama melalui peran ulama dan wali seperti Sunan Bonang. Masjid Agung Tuban, yang didirikan pada masa itu, menjadi simbol penyebaran Islam dan bukti sejarah peradaban Islam di kota ini.

 

Tuban pada Masa Kolonial

Ketika era kolonial Belanda dimulai, Tuban tetap mempertahankan perannya sebagai kota pelabuhan. Namun, Belanda mengambil alih kontrol perdagangan dan menjadikan Tuban sebagai salah satu pusat administrasi kolonial. Meskipun demikian, masyarakat Tuban terus berjuang mempertahankan identitas dan kebudayaannya.

 

Tuban dalam Perjuangan Kemerdekaan

Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Tuban menjadi salah satu daerah yang aktif melawan penjajah. Banyak pejuang dari Tuban yang turut serta dalam pertempuran melawan Belanda. Semangat perjuangan ini tercermin dalam budaya dan tradisi masyarakat Tuban yang gigih dan pantang menyerah.

 

 

 

 

 

 

Tuban di Era Modern

Di era modern, Tuban terus berkembang sebagai kota industri dan pariwisata. Dengan kekayaan alam seperti cadangan minyak dan gas, serta potensi wisata pantai dan budaya, Tuban menjadi salah satu kota penting di Jawa Timur. Pembangunan infrastruktur dan industri semakin memperkuat peran Tuban dalam perekonomian regional.

 

Warisan Budaya dan Sejarah Tuban

Hingga kini, Tuban tetap mempertahankan warisan budaya dan sejarahnya. Festival-festival budaya, upacara adat, dan situs-situs bersejarah seperti Masjid Agung Tuban dan Makam Sunan Bonang menjadi daya tarik tersendiri. Nama Tuban, yang bermula dari legenda sakit perut, kini telah menjelma menjadi simbol kebanggaan masyarakat Jawa Timur yang kaya akan sejarah dan budaya.

 

Dari legenda hingga fakta sejarah, Tuban adalah kota yang menyimpan banyak cerita menarik. Setiap sudutnya mengisahkan perjalanan panjang sebuah kota pelabuhan yang terus berkembang, namun tetap mempertahankan akar budayanya. (Agie)

 

Editor : Miko
#bupati tuban #Sunan Bonang #wisata tuban #kabupaten tuban