Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Sejarah Perayaan Imlek yang Jarang Diketahui oleh Kalangan Gen Z

Redaksi Radar Kediri • Rabu, 29 Januari 2025 | 06:58 WIB

 

KHUSYUK: Umat Tri Dharma beribadah di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong jelang tahun baru Imlek Jumat (9/2) malam.
KHUSYUK: Umat Tri Dharma beribadah di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong jelang tahun baru Imlek Jumat (9/2) malam.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Sebagian besar orang terutama Gen Z mungkin masih mengetahui Imlek hanya sebatas perayaan tahun baru saja.

Imlek berasal dari Bahasa Mandarin yang muncul dari dialek hokkien. Yang memiliki arti ‘kalender bulan’.

Secara umum, Imlek dikenal dengan Perayaan yang dilakukan masyarakat keturunan Tionghoa untuk menyambut Tahun Baru setiap tahunnya. Imlek juga dikenal dengan Tahun Baru China.

Kamu mungkin bertanya-tanya, perayaan tahun baru kan seharusnya dilakukan pada awal tahun 2025, yang jatuh pada tanggal 1 Januari lalu? Lalu mengapa masyarakat Tionghoa baru merayakannya sekarang?

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kalender yang digunakan oleh masyarakat Tionghoa merupakan kalender dengan sistem penanggalan bulan yang jelas berbeda sistem penanggalan masehi yang kita gunakan.

Agar lebih mengenal Imlek, yuk simak asal mula munculnya Perayaan Imlek!

Asal Mula Munculnya Imlek

Dulunya, Imlek adalah perayaan yang dilakukan oleh para petani Negeri Tirai Bambu untuk menyambut datangnya musim semi. Pada masa itu, Imlek dikenal dengan festival musim semi.

Konon katanya, setiap sebelum pergantian tahun terjadi, seekor binatang buas raksasa akan muncul dan memangsa manusia dan ternak-ternak.

Sebelum hal itu terjadi, masyarakat segera mengunci kandang-kandang ternak. Mereka kemudian lari mengusngsi ke daerah pegunungan yang jauh agar tidak bisa dijangkau oleh mahluk itu.

Binatang buas itu dikenal dengan sebutan ‘Nian’. Dalam mitologi China kuno, Nian digambarkan sebagai mahluk raksasa yang memiliki gigi dan tanjuk yang tajam.

Nian memiliki rupa seperti singa yang tinggal di dasar laut. Nian akan muncul ke daratan tepat pada hari terakhir sebelum pergantian tahun terjadi.

Hingga suatu hari, datanglah seorang kakek bersurai abu-abu ke sebuah desa yang masih dibayang-bayangi oleh serangan dari makhluk buas itu. Sang kakek berjanji, akan melindungi desa tersebut dari ancaman Nian pada akhir tahun.

Setelah sang kakek berjanji, warga yang masih merasa cemas dan takut akan serangan Nian yang akan mendatang tetap memilih untuk mengungsi ke daerah pegunungan.

Seperti yang sudah diprediksi, Nian datang memasuki wilayah desa tersebut pada malam hari. Belum sempat berburu mangsa di desa tersebut, Nian mendengar suara petasan yang meledak-ledak dan kobaran api yang terang.

Sang kakek yang meledakan petasan dan membuat kobaran api tersebut berjalan mendekat ke arah Nian dengan mengenakan pakaian berwarna merah. Nian yang ketakutan akhirnya melarikan diri dari desa tersebut dan kembali ke tempat asalnya.

Keesokan harinya, para warga desa yang mengungsi kembali ke desa. Mereka terkejut saat melihat rumah dan kandang ternak milik mereka masih dalam berdiri kokoh tanpa ada kerusakan.

Warga desa akhirnya menyadari bahwa sang kakek yang menolong desa mereka dari serangan Nian sebenarnya adalah dewa yang datang untuk membantu mereka.

Sebelum pergi, sang kakek berpesan. Nian memiliki ketakutan akan tiga hal. Yaitu petasan, cahaya terang, dan benda-benda berwarna merah.

Dari sanalah, akhirnya muncul tradisi yang dilakukan orang-orang China untuk menyalakan petasan memasang benda-benda berwarna merah di area rumah mereka.

Seperti memasang kertas, lentera, dan hiasan lainnya berwarna merah. Tradisi tersebut pun masih berlangsung hingga saat ini. (Mahasiswa Magang PNM Nabila Syifa’ul)

Editor : Andhika Attar Anindita
#radar kediri #budaya #Gen Z #sejarah #tahun baru china #imlek