KEDIRI, JP Radar Kediri-Kirab perayaan 1 Sura di Petilasan Sri Aji Jayabaya Desa Menang, Kecamatan Pagu dibanjiri penonton kemarin. Sayangnya, banyaknya pengunjung tersebut justru mengurangi kekhidmatan prosesi. Banyak dari mereka yang tidak mematuhi anjuran panitia. Nekat menerobos pembatas untuk mengambil foto hingga ikut berdoa. Menjadikan jalannya upacara sempat terganggu.
“Kadang-kadang memang mengganggu ya, apalagi ramai sendiri. Yang (juga) tidak bisa diingatkan, yang (juga) lari ke sana ke mari,” aku Pengurus Yayasan Hondodento Chatarina Etty, yang ditemui setelah pelaksanaan prosesi.
Toh, Chatarina mengaku hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Masih dalam batas yang bisa ditoleransi. Apalagi, prosesi kemarin hanya berlangsung sekali dalam setahun. Yaitu ketika bertepatan dengan 1 Sura alias awal tahun penanggalan Jawa. Membuat masyarakat sangat antusias dan penasaran.
“Ya dari itulah masyarakat biar tahu juga kayak apa sih upacaranya? Dengan melihat mereka jadi tahu. Dan dari situ mereka bisa memberi bentuk penghormatan. Kan orang kalau tidak melihat kan tidak mengenal ya? Tidak mengenal ya tidak bisa menghormati,” beber perempuan yang kemarin berkebaya merah muda itu panjang lebar.
Terlepas dari itu semua, perempuan asal Jogjakarta ini bersyukur kegiatan bisa berlangsung sesuai rencana. Prosesi yang berakhir pukul 13.00 itu berjalan relatif lancar. Tidak ada gangguan yang berarti kecuali hanya animo tinggi penonton yang kadang sedikit mengganggu prosesi.
Sementara itu, Kepala Desa Menang Linda Endrawati menyebut, antusiasme warga dalam ritual kemarin memang tinggi. Bahkan warga yang hadir juga lebih banyak dari tahun sebelumnya.
“Lebih ramai tahun ini,” terangnya.
Menurutnya, selain melestarikan adat dan budaya, kegiatan kemarin juga meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. “Di sini warga kami ada banyak yang jual makanan, minuman, dan (jasa) parkiran," urainya.
Terkait tujuan kegiatan kirab itu, Chatarina menyebut selain untuk melestarikan budaya, juga untuk mengenang bagaimana sosok Jayabaya. Dengan mengenang sosok pemimpin masa lampau itu sekaligus bisa meneladani bagaimana sifat seorang pemimpin besar.
“Bahwa penghormatan kepada Sang Prabu Sri Aji Jayabaya ini mungkin menjadikan teladan bagi masyarakat sekitar untuk meneladani Sang Prabu juga.
Baca Juga: Sambut Waisak di Kediri, Umat Mandikan Patung Buddha
Seperti apa sosok beliau? Seorang pemimpin sejati, yang jujur, tidak korupsi, mencintai rakyatnya, dan berkorban untuk rakyatnya,” jelasnya.
Dalam kirab kemarin, melibatkan sekitar 200 orang yang merupakan gabungan dari warga desa setempat, Yayasan Hondodento, dan komunitas-komunitas budaya. Kirab dimulai sekitar pukul 09.00. Dari pendapa Balai Desa Menang kemudian menuju ke Petilasan Pamuksan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo. Sepanjang jalan digelar karpet merah sebagai area berjalan rombongan pawai.
Dari lokasi pamuksan itu, kirab berlanjut ke rute kedua. Yaitu menuju Sendang Tirta Kamandanu. Di tempat ini selain digelar serangkaian doa juga ada upacara tabur bunga.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah