KEDIRI, JP Radar Kediri–Jejak peradaban di lereng Gunung Klotok semakin terang. Setelah menemukan dua Candi Klotok pada 2018 lalu, tim Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jatim melanjutkan ekskavasi sejak 28 Agustus lalu. Hasilnya, mereka berhasil menemukan struktur anak tangga di Candi Klotok 2.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri di lokasi ekskavasi kemarin, tim melakukan penggalian di dua titik. Yakni, tepat di bawah Candi Klotok 2 yang ditemukan struktur anak tangga. Serta di lokasi ditemukannya patirtan. Yaitu, di bawah kompleks candi.
Arkeolog BPK Jatim Nurmala yang kemarin melakukan ekskavasi di lokasi mengungkapkan, struktur anak tangga dengan fondasi batu bat aitu ditemukan di kontur tanah miring. Tepat di selatan Candi Klotok 2.
“Di atasnya ada struktur yang diduga paseban, di depan Candi (Klotok) 2. Itu menyambung dengan yang di bawah. Di lereng itu, ada anak tangga,” kata Nurmala.
Baca Juga: Puluhan Umat Hindu di Kota Kediri Rayakan Kuningan
Sedikitnya ada lima anak tangga yang berhasil digali. Selebihnya, tim juga mulai melakukan penggambaran struktur anak tangga tersebut. Yaitu, dengan merekam data dalam bentuk gambar dua dimensi di kertas.
“Karena dia berbentuk lereng, kita lihat dari kontur tanahnya terlihat bahwa dia (struktur tangga) kedesak. Itu terlihat dari posisi robohnya. Ternyata karena kedesak akar,” papar Nurmala tentang beberapa titik anak tangga yang ditemukan dalam kondisi roboh.
Selain struktur anak tangga yang menyambung dengan paseban dan Candi Klotok 2, tim juga melanjutkan proses ekskavasi di patirtan. Objek yang berjarak sekitar 400 meter dari Candi Klotok 2 itu sebelumnya sudah digali oleh tim. Penggalian di lokasi tersebut dilanjutkan kembali sejak seminggu lalu.
“Ini kami runut dari galian tahun kemarin. Ternyata ketemu jalan masuknya air atau atandon,” jelas Nurmala.
Baca Juga: Kirab Satu Sura di Petilasan Sri Aji Jayabaya Dibanjiri Pengunjung
Tandon yang ditemukan itu menurut Nurmala digunakan menampung air dari sumber. Selanjutnya disalurkan menuju bilik-bilik. Tepat di bawah tandon air terdapat tiga saluran yang membawa air menuju patirtan yang belum sepenuhnya terekspos.
“Di petirtaan (patirtan, Red) kan biasanya ada bilik-bilik air yang biasanya memisahkan antara perempuan dan laki-laki. Kita juga belum buka yang di atasnya,” jelasnya.
Menurut Nurmala, penggalian di kawasan patirtan berbeda dengan kawasan candi. Jika di sekitar candi kontur tanah yang miring jadi kendala, di area patirtan justru batu-batuan yang banyak ditemukan.
“Kami tidak seperti menggali tanah. Tapi mencongkel batu. Itu lebih sulit karena dimensinya berat,” paparnya sembari menyebut bebatuan di area patirtan merupakan batu-batu besar. Sebagian mendesak struktur candi hingga merobohkan beberapa bagian.
“Karena dia runtuhan dari atas, dia juga merusak sebagian fondasi,” imbuhnya sembari menunjukkan beberapa struktur patirtan yang nampak roboh. Selebihnya, menurut Nurmala tim masih perlu membersihkan area dalam patirtan. Sebab, di sana masih terlihat tumpukan tanah. Sehingga, struktur patirtan dan bilik-biliknya belum terlihat sempurna.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah