Seperti yang terlihat di SDN Burengan 2 Kota Kediri. Di hari pertama masuk sekolah kemarin, siswa terlihat mengikuti upacara dengan memakai baju adat. Setelah itu, siswa bersenda gurau sembari berbagi camilan atau kue lebaran yang dibawa dari rumah.
“Anak-anak semua ngumpul, ya. Jajannya diletakkan di tengah, dimakan bersama-sama. Boleh jalan-jalan ke meja sebelahnya seolah-olah nglencer lebaran,” kata Dewi Sholihatur Rohmah, guru SDN Burengan 2 kepada anak didiknya seraya meminta anak-anak menggabungkan beberapa meja menjadi satu dan duduk melingkar.
Menuruti instruksi guru, anak-anak yang memakai baju adat Jawa, Bali, hingga Lampung ini langsung berkumpul dan menikmati kue lebaran yang dibawa dari rumah. Terkait baju adat anak-anak yang beragam, menurut Dewi sekolah memang tidak membatasi siswa memilih pakaian adat yang dipakai.
“Sekarang macam-macam. Kalau semester kemarin memang kebanyakan adat Jawa. Karena kemarin temanya kearifan lokal, jadi kita mengangkat budaya yang ada di Kediri seperti pakaian lurik,” tambah guru kelas 4 ini.
Untuk diketahui, pemakaian baju adat di sekolah biasanya dilakukan pada hari Kamis. Pemilihan baju adat di sekolah yang menjadi pilot project penerapan kurikulum Merdeka Belajar sejak tahun 2021 lalu itu, dilakukan pada semester 1 2022/2023.
Diakui Dewi, penerapan kurikulum Merdeka Belajar membuat guru lebih leluasa berinovasi dalam pembelajaran. “Bapak ibu guru bisa mengembangkan dan menentukan indikator sesuai karakteristik siswa di sini,” lanjutnya.
Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri Marsudi Nugroho mengatakan hal serupa. Menurutnya, tahun ini kurikulum Merdeka Belajar tahun ini sudah diterapkan di seluruh SD dan SMP di Kota Kediri. “Di tahun pertama 2021, yang sudah menerapkan baru Sekolah Penggerak. Saat itu ada delapan SD dan tiga SMP,” jelas Marsudi.
Di Kota Kediri total ada 236 SD yang terdiri dari 111 sekolah negeri dan 25 lainnya swasta. Kemudian, untuk jenjang SMP ada 34 lembaga. Sembilan di antaranya negeri dan sisanya swasta.
Seperti halnya para guru, Marsudi menyebut kurikulum Merdeka Belajar memang memberi keleluasaan kepada guru dan kepala sekolah untuk mengembangkan kurikulum masing-masing. “Guru, kepala sekolah, dan siswa semuanya saling belajar dan mengembangkan kurikulum masing-masing. Jika ada kesulitan, mereka akan dibantu para pengawas dan sekolah penggerak yang kami tugasi,” jelas Marsudi tentang Merdeka Belajar yang jadi tema Hardiknas kemarin.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah