Ini Waktu yang Dibutuhkan Ngaji Kitab Santri Kilat di Ponpes Jampes

Anwar Bahar Basalamah • Dipublikasikan Senin, 10 April 2023 | 18:34 WIB
(Foto: Asad)
(Foto: Asad)
Namanya juga santri kilat, semua serba cepat. Tak hanya waktu mondok, belajarnya pun juga jauh lebih cepat. Kitab yang seharusnya dipelajari selama setahun saat Ramadan jadi hanya sebulan!

Tidak jauh berbeda dari pondok lainnya, Pondok Pesantren Al Ihsan Jampes memberi kesempatan bagi santri dari pondok lain untuk belajar kitab selama Ramadan ini. Dan, waktunya juga kilat.

Namun, bukan berarti tidak dipelajari secara runtut. Hanya wakunya yang dimampatkan. Kalau biasanya hanya di waktu-waktu tertentu, saat Ramadan ini belajarnya sehari penuh.

“Kalau tahunan cuma (dipelajari) satu jam. Kalau ini bisa sehari penuh,” jelas Munif Muhammad, 59, salah seorang pengasuh Pondok Al Ihsan Jampes.

Ini menjadi suatu tantangan bagi para santri. Karena selain tetap dipelajari secara runtut, pembelajarannya juga dipercepat dibanding biasanya. Karena itulah beberapa santri memiliki trik tersendiri. Agar paham dengan kitab yang dipelajari.

“Biasanya beli kitab petuk, kitab yg sudah ada maknanya. Selain mendengarkan penjelasan, juga mempelajari sendiri mutholaah (menelaah, Red),” jelas Ahmad Irsadul Masalih, 20, santri kilat dari Pondok Pesantren Lirboyo.

Namun, menurut para santri, yang diutamakan bukan paham tidaknya. Melainkan karena tholabul ilmi adalah ibadah. Selain itu juga mencari barokah dari keturunan masyayikh-nya pengasuh di pondok.

“Biasanya orang yang datang adalah santri-santri sepuh. Kayak dari Lirboyo. Dan dia sudah paham tentang kitab yang dicari. Jadi datang untuk nyari berkah. Tidak mikir penjelasan, tidak mikir ilmunya,” jelas Ahmad Poleng, 21, salah satu santri kilat dari pondok pesantren Mambaul Ulum, Pati, Jawa Tengah.

Ahmad Poleng juga menjelaskan, memang tidak bisa langsung paham mempelajari satu kitab. Terlebih bagi mereka yang masih belum lancar dalam memberi maknan gandul.

“Yang penting maknani dulu nanti baru bisa paham,” imbuhnya.

Irsad juga sependapat dengan Ahmad Poleng. Bahwa yang diutamakan dalam ngaji itu ikhtiarnya. Masalah paham tidaknya, serahkan pada Allah.

“Masalah paham tidaknya biasanya santri itu tidak mikir. Yang diutamakan ngajinya, ikhtiarnya. Masalah paham tidaknya tawaqal,” akunya

Dalam satu waktu maos (baca) kitab saat Ramadan minimal dua jam, dan kebanyakan lebih. Namun, jika di bulan biasa, satu waktu hanya sekitar satu jam saja.

Ahmad Yasin Mustofa, 25 mengakui memang tidak semua santri bisa mudah paham dengan pembelajaran kilat. Terlebih kegiatan itu dilakukan pada saaat puasa. Santri justru akan lebih sulit untuk fokus. Apalagi pembelajarannya dilakukan secara cepat.

“Secara logika saja, paham kan tak mesti (karena metodenya cepat). Saya sendiri contohnya. Namun, kembali lagi ke tujuan utama, yaitu cari barokah dari masyayikh,” aku Yasin dengan merekahkan senyumnya.

“Lungguh (duduk, Red) di majelis tok saja sudah sama seperti dengan memerdekakan budak. Apalagi di bulan puasa,” imbuhnya mengutip perkataan kiainya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
radar kediri berita viral beria terkini berita terbaru berita hari ini