Ada 11 Kitab yang Harus Dipelajari Santri Kilat di Ponpes Jampes

Anwar Bahar Basalamah • Dipublikasikan Senin, 10 April 2023 | 17:42 WIB
SELESAI NGAJI: Sebagiann santri kilat Jampes  pulang karena ngaji  dengan cara nduduk atau pulang pergi dari rumah. (Foto: Asad)
SELESAI NGAJI: Sebagiann santri kilat Jampes pulang karena ngaji dengan cara nduduk atau pulang pergi dari rumah. (Foto: Asad)
Bagi santri kilat di Pondok Al Ihsan Jampes mereka bebas memilih. Mau jadi santri mukim selama Ramadan atau nduduk alias berangkat dari rumah.

Sebenarnya, selama Ramadan, ada sebelas kitab yang disiapkan untuk dipelajari oleh para santri kilat. Namun, tak ada paksaan bagi para santri kilat harus mempelajarinya. Mereka bebas memilih. Boleh sebelas-belasnya dipelajari semua. Atau cukup satu kitab.

“Yang penting ikhlas,” tegas pengasuh Ponpes Jampes Munif Muhammad.

Pria berusia 59 tahun ini kemudian menyebut jenis-jenis kitab yang disiapkan untuk dipelajari para santri. Ada Manhijul Imdad Jus 1, Fathul Mu’in, Qurrotul ‘Uyun. Fathul Qorib, Syarhul Hikam, Safinatun Najah dan Sulam Taufiq, Sirojut Tholibin Jus 1 dan 2, Abi Jamro Safintus Sholah dan Barzanji, Khosoisun Nabi dan Syarah Arba’in Nawawi, Minhajut Thullab, serta Al ’Asal.

Bagi Munif, yang paling penting para santri bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya. Dan, itu selalu dia tekankan di awal. Ketika para santri kilat itu kulanuwun, minta izin mondok selama Ramadan.

“Lekne sinau sing tenanan nggih Kang (kalau belajar yang sungguh-sungguh ya Kang, Red),” wejang Kyai Munif pada santri-santri kilat yang nembung (minta izin) saat awal mereka masuk. Wejangan tersebut diangguki oleh tiga santri yang menghadapnya.

Jika kitab yang dipelajari sudah katam, para santri juga diperbolehkan pulang. Terutama bagi mereka yang berniat mempelajari satu kitab saja. Walaupun tak sedikit yang menegaskan tekad mempelajari semua kitab yang disediakan.

“Tujuannya misalnya kitab ini, kalau sudah selesai ya langsung pulang,” kata Ahmad Irsadul Masalih, 20, salah satu santri kilat yang rumahnya di Desa Gringging, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri.

Pengurus pondok juga membenarkan hal itu. Dia menjelaskan memang santri kalau sudah katam dipebolehkan pulang. Karena tujuan utama dari santri adalah cari barokah.

“Soalnya sudah khatam dan mereka pamit. Kan kembalinya juga niat mereka untuk mencari barokah,” jelas pengurus Pondok Jampes Ahmad Yasin Mustofa, 25.

Bagi santri kilat, mereka memang tidak diwajibkan untuk mukim atau menginap di pesantren selama mondok. Mereka boleh nduduk alias berangkat dari rumah kemudian selesai waktunya ngaji pulang lagi. Santri kilat yang seperti ini, menurut Yasin, berjumlah enam santri.

Lalu, banyak pula santri yang memilih mukim. Tinggal di pesantren selama jadi santri kilat. Jumlahnya sekitar 20-an orang. Mereka masih tinggal karena meneruskan mengkhatamkan kitab-kitab lainnya.

Namun, ada pula yang awalnya mukim kemudian ganti nduduk. Seperti yang dilakukan oleh Irsad ini. Sejak Jumat sore (7/4) dia mulai nduduk dari rumah. Karena salah satu kitab yang dipelajarinya, Fathul Muin, sudah hampir katam dikaji.

“sejak hari pertama mukim, terus ini nduduk,” akunya.

Yasin juga menunjukkan bahwa sudah hampir semua kitab yang dikaji sudah katam. Yang belum, Fathul Muin, Manhijul Imdal, Sirojud Tholibin jus 2, dan Al ‘Asal.

“Sekitar puasa (hari ke) 15 -17 biasanya sudah banyak yang selesai. Mungkin paling lama sekitar puasa (hari ke) 26 – 27 sudah selesai semua,” terang santri asal Lamongan itu.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
radar kediri berita terkini berita viral berita terbaru berita hari ini