Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Problem Perajin Barongan Jaranan di Kabupaten Kediri

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 6 April 2023 | 17:31 WIB
SEPI PEMBELI: Lugas Dirgantara, perajin barongan Jaranan Jawa menunjukkan beberapa karyanya. (Foto: Ayu Isma)
SEPI PEMBELI: Lugas Dirgantara, perajin barongan Jaranan Jawa menunjukkan beberapa karyanya. (Foto: Ayu Isma)
Sejak terdaftar sebagai kekayaan intelektual komunal, jaranan Jawa kian melejit. Sering mendapat ruang untuk tampil. Sayang, tak diimbangi dengan pemberdayaan perajinnya.

Lugas Dirgantara memahat kayu waru lengis di halaman rumah. Bongkahan kayu itu akan diubah menjadi sebentuk barongan, salah satu perlengkapan yang digunakan dalam pentas jaranan, termasuk jaranan Jawa.

Pria 36 tahun itu adalah satu-satunya perajin yang membuat barongan. Kemampuan yang dia peroleh secara turun-temurun. Mulai ayahnya, kakeknya, hingga buyutnya adalah pembuat barongan.

“Saya selingi dengan membuat kerajinan topeng kayu,” ucapnya sembari menunjukkan satu topeng berwajah kera berwarna cokelat.

Sejenak kemudian, Lugas kembali sibuk dengan pekerjaan utamanya. Fokusnya meninggi. Sebab, pengerjaannya harus detil. Ada pendalaman batin yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Waktunya pun relatif lama, selama sebulan baru jadi.

Berbeda bila ditujukan untuk komersial alias dijual untuk suvenir. Pengerjaan lebih cepat karena tak harus detil.

“Kalau untuk tujuan pementasan harus benar-benar teliti. Karena butuh pendalaman,” akunya.

Sejak jaranan Jawa naik pamor-setelah masuk sebagai kekayaan intelektual komunal (KIK) Kabupaten Kediri-perajin peralatan kesenian ini juga mulai dilirik. Namun, tak melejit seperti jaranan Jawa. Nasib mereka tak banyak tertolong. Mereka belum tersentuh pemberdayaan.

Lugas misalnya, hanya membuat barongan untuk keperluan kelompok jaranan saja. Hanya berdasarkan pesanan. Padahal, jumlah kelompok jaranan Jawa juga belum banyak.

Nasib serupa juga dirasakan Paijan. Lelaki 64 tahun yang juga pembuat jaranan kepang. Meskipun menjadi satu-satunya perajin jaranan kepang, toh dia tetap kesulitan memasarkan produknya. Dia baru bisa menjual produknya, setidaknya, enam bulan setelah selesai dibuat.

“Jualnya kalau ada pesanan saja. Kalau enggak ya kadang bantu permak yang rusak,” akunya.

Bila sekadar membantu, dia melakukannya dengan Cuma-Cuma. Karena itulah, bila dihitung, pendapatan perajin aksesoris jaranan jauh dari kata untung. Intinya, mereka belum berdaya mengikuti pamor jaranan Jawa yang mulai menanjak.

Bukan hanya pemasaran yang menjadi kendala para perajin ini. Masalah regenerasi yang sulit juga hambatan yang lain. Mayoritas perajin jaranan Jawa usianya sudah di atas 40 tahun. Mereka merasa kesulitan menularkan kemampuan mereka ke yang lebih muda.

“Kemarin berkat blow up dari media, ada yang pesan jaranan kepang kepada kami. Tapi dadakan, ya ndak bisa. Perajinnya hanya satu orang. Jadi nggak nyetok dan butuh waktu untuk merangkainya,” terang Didik Pranoto, wakil Paguyuban Jaranan Jawa yang kemarin mendampingi para perajin nglumpuk di rumah Lugas.

“Bocah-bocah gak mau dibelajari,” sambung Paijan, njlentrehne penyebab mereka sulit melakukan regenerasi.

Padahal, agar bisa menjadi perajin aksesori jaranan yang unggul, perlu proses dan pengamatan yang lama. Setidaknya itu yang secara turun-temurun dia dan perajin lain lakukan.

“Harus sering lihat (orang lain membuat). Saya dulu belajarnya juga dari bapaknya dia, lama mengamati sampai akhirnya bisa,” tambahnya sambil telunjuknya menunjuk Lugas.

Kini, sebenarnya ada sebersit harapan bagi para perajin dan pelaku jaranan Jawa. Yaitu terwujudnya mimpi membentuk kampung jaranan Jawa. Salah satu yang berupaya merealisasikan harapan itu adalah Purwanto. Aktivis pemuda yang fokus pada pengembangan jaranan Jawa di Kecamatan Kras, khususnya di Desa Banjaranyar.

“Saya ingin setelah jaranan Jawa naik, bisa dikembangkan juga UMKM-nya. Tidak hanya untuk kelompok jaranannya saja, juga masyarakat umum,” jelas Purwanto.

Ya, pertemuan di rumah Lugas menjadi ajang mengutarakan impian dari berbagai kalangan berbeda latar belakang itu. Ada yang ingin pegiat jaranan Jawa tetap guyub rukun di tengah arus modernisasi. Satu lagi ingin para pegiatnya berdaya. Berharap agar jaranan Jawa tak hanya jadi hobi. Melainkan menjadi sumber penghidupan yang layak. Lebih-lebih, kata Purwanto, jika bisa menjadi ikon daya tarik wisatawan.

“Harapannya nanti ada yang tertarik untuk belajar sebagai pengrajin. Bisa kami buatkan semacam museum, yang bisa untuk belajar menari, bikin aksesori jaranan, atau sekedar melihat-lihat produk dan karya seni jaranan Jawa,” ucapnya penuh harap.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita viral #berita terbaru #berita hari ini #bera terkini