Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ponpes Kapurejo Terbuka untuk Siapa Saja yang Ingin Belajar

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 3 April 2023 | 18:16 WIB
(Foto: Iqbal Syahroni)
(Foto: Iqbal Syahroni)
Tak hanya santri mukim yang mengaji kitab kuning di Ponpes Salafiyah Kapu rejo. Pintu pondok juga terbuka bagi ma syarakat yang ingin mendengarkan kajian.

Pondok Pesantren Salafiyah Kapurejo menunjukan jati diri sebagai pesantren yang terbuka. Tak hanya para santri yang bermukim saja yang belajar. Namun, warga sekitar pun bisa terlibat

Baik mendengarkan kajian hingga mengamalkan isinya. Salah seorang warga yang ikut mendengarkan kajian kitab kuning adalah Anis. Pemuda 25 tahun ini bukanlah santri mukim. Tapi selama Ramadan dia ikut mengaji untuk mengisi waktu.

“Sempat libur juga beberapa tahun yang lalu karena masih kuliah. Sekarang kalua ada waktu insya Allah sempatkan ke sini,” terang warga Desa Pagu, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Dulu, awalnya dia tahu soal Pondok Kapu karena diajak kerabatnya. Juga pada saat Ramadan. Dia ikut mengaji, mendengarkan saja kiai yang sedang membaca kitab kuning.

“Saya dulu tahunya saat Ramadan saja waktu ngaji kitab kuningnya, seusai salat. Banyak juga masyarakat yang ikut mendengarkan di masjid,” terangnya. Cara membedakan antara warga yang ikut mengaji dengan santri biasanya dari pakaian. Bila santri,dilengkapi dengan kopiah.

Sedangkan warga umum kebanyakan tak mengenakan kopiah. Meskipun ada sebagian yang juga berpeci hitam. Pondok Kapu memang dikenal pesantren yang sangat egaliter. Tak terlihat perbedaan dari sisi penampilan antara kiai, santri, dan warga. “Kalau datang di jam-jam selain bacaan kitab, pasti tidak bisa membedakan antara santri, guru, dan masyarakat sekitar,” ujar guru Ponpes Salafiyah Kapurejo Syariat.

Ia mengatakan, sesuai dengan ajaran terdahulu, Ponpes Salafiyah Kapurejo ini 24 jam terbuka bagi seluruh masyarakat. Baik yang ingin belajar atau hanya sekadar ikut mengaji. Termasuk pula sekadar bertanya-tanya tentang pondok.

“Kami tidak membatasidengan masyarakat yang datang. Karena sejatinya, ilmu itu ada untuk terus dibagi dan diajarkan,” imbuh Syariat. Lelaki 47 tahun itu mengatakan, untuk belajar kitab kuning dengan membawa dan mengamalkan kitab juga hanya dilakukan oleh para santri.

Sedangkan untuk masyarakat yang ingin ikut belajar bersama, bisa datang ke masjid di jam-jam seusai salat. “Kami selalu terbuka untuk masyarakat yang ingin belajar,” kata Syariat.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita terkini #berita viral #berita terbaru #berita hari ini