Bagi santri yang sudah kelas tiga tsanawiyah hingga yang ma’had Aly, harus bersiap diterjunkan ke pelosok daerah. Ke desa-desa di seluruh Indonesia. Tujuannya, berlatih dalam medan dakwah yang nyata. Berlatih mengaplikasikan ilmu yang didapat di pondok pesantren.
Tahun ini, ribuan santri yang dikirim ke tempat-tempat seperti itu. “Biasanya sekitar 1.200 orang. Kalau sekarang sepertinya sekitar enam ribu santri,” erang anggota Badan Pengasuh sekaligus Penasihat Ponpes Lirboyo HM. Ibrohim Hafidz.
Pria yang akrab disapa Mbah Bram ini menjelaskan, dari kegiatan safari ini harapannya santri akan lebih terasah pengalamannya dengan terjun langsung ke masyarakat. “Kalau kuliah itu ibaratnya seperti KKN. Pengabdian ke masyarakat, tapi dengan cara berdakwah. Mengenalkan agama islam, membuat kegiatan keagamaan di daerah menjadi lebih hidup. Terutama daerah yang jarang dan tidak ada kiai,” terangnya.
Menurutnya, masyarakat yang antusias dengan kegiatan santri setiap hari menanyakan tema mengaji yang dibawakan. Misal tentang fikih dasar sehari-hari atau praktik ubudiyah. Juga tentang dalil atau landasan amaliyah ahlus sunnah wal jamaah.
Selain ke daerah pelosok, ribuan santri ini juga disebar ke daerah yang penduduknya minoritas muslim. Seperti ke Suku Tengger di kawasan Bromo, Probolinggo.
Dengan kegiatan safari Ramadan ini Mbah Bram berharap santri semakin memperkenalkan dunia pondok pesantren kepada masyarakat luas. Terutama kepada orang-orang awam. Agar mereka tertarik menimba ilmu agama secara lebih intens dan mendalam. Yaitu dengan mengirimkan putra-putrinya mondok di pesantren.
“Hasilnya tidak sedikit. Masyarakat yang daerahnya didatangi santri safari Ramadan akhirnya mengirim putra-putrinya untuk mondok ke sini. Bahkan dari Suku Tengger juga beberapa kali mengirim anaknya untuk mondok,” ujar Mbah Bram, yang berpesan agar santri tak lelah dalam berdakwah li ‘ila kalimatillah (menegakkan kalimat Allah). Serta berkhidmat kepada ilmu dan kepada masyayikh Lirboyo bagaimanapun keadaan dan situasinya.
Mbah Bram mengatakan bahwa program safari Ramadan ini sekaligus sebagai persyaratan kelulusan santri. Selain mengenalkan Islam dan pondok Lirboyo, para santri yang terjun ke desa harus memakmurkan tempat-tempat ibadah yang ada di daerah itu.
“Silahturahmi ke rumah-rumah warga juga. Intinya melatih santri berinteraksi ke masyarakat sesuai dengan ilmu yang mereka dapatkan ketika mondok,” tuturnya.Pondok Pesantren Lirboyo tiap tahun tepatnya pada bulan Ramadan mewajibkan para santri mulai kelas 3 tsanawi sampai ma’had aly untuk mengikuti kegiatan Safari Ramadan.
Mereka diterjunkan ke daerah pelosok atau desa-desa di seluruh Indonesia untuk berlatih dalam medan dakwah yang riil serta berlatih mengaplikasikan teori-teori yang telah mereka pelajari di pesantren. HM. Ibrohim Hafidz anggota badan pengasuh sekaligus penasihat Ponpes Lirboyo mengatakan tahun ini ada ribuan santri regular yang dikirim ke daerah pelosok untuk menjalani program dari ponpes Lirboyo.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah