Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Di Ponpes Lirboyo, Masaknya Bareng-bareng dan Makan di Nampan

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 27 Maret 2023 | 17:41 WIB
(Foto:Wahyu Adji)
(Foto:Wahyu Adji)
Remaja bersarung duduk di selasar. Sibuk memotong sayur dan menyiapkan bumbu. Menyiapkan menu yang akan disantap para santri kilatan ketika tiba waktu berbuka.

“Di Pondok Lirboyo santrinya memasak sendiri. Tidak dimasakkan pengurus. Begitu juga santri kilatan,” kata HM. Ibrohim Hafidz. Anggota badan pengasuh sekaligus penasihat Ponpes Lirboyo itu menegaskan perlakuan pada santri  kilatan yang tak berbeda dengan santri reguler.

Pria yang akrab disapa Mbah Bram ini menambahkan, justru santri-santri pria di Lirboyo pintar memasak. Karena mereka dilatih untuk memasak sendiri. Menurutnya, belajar memasak sangat penting untuk laki-laki. Selain untuk berlatih mandiri. Kelak juga laki-laki harus siap membantu istri jika kesusahan.

“Kalau istri sedang hamil atau sedang repot dengan anak, suami bisa membantu untuk memasakkan makanan,” tutur Mbah Bram. Senyumnya mengembang ketika mengatakan itu.

Mbah Bram menuturkan, sudah sejak lama santri-santri di Lirboyo memasak sendiri. Dulu memasaknya menggunakan kayu bakar. Karena dinding tembok penuh jelaga, berwarna hitam, akhirnya beralih ke kompor. “Mulai dari kompor, gas elpiji, semua disiapkan. Jadi ada banyak berjajar kompor-kompor di dapur,” imbuhnya.

Para santri, biasanya, memasak sayuran. Bergantian yang bertugas berbelanja ke pasar. Sorenya, sayur dan bumbu diolah bersama-sama. “Jadi ada yang memotong sayur, mengupas bawang, menanak nasi. Itu dilakukan semuanya bersama-sama,” ungkapnya.

Ketika waktu berbuka tiba, mereka menyantap makanan yang diletakkan di nampan. Nasi dan lauknya jadi satu. Mereka melahap dengan muluk, langung dengan tangan tanpa menggunakan sendok. “Lebih alami dan tentunya menjaga kebersamaan. Tapi ada juga santri yang memang makan menggunakan piring dan sendok,” tuturnya.

Memasak bersama itu mereka lakukan usai mengaji kitab setelah salat Duhur berjamaah. Yang selesainya menjelang Asar. Usai salat Asar beberapa dari mereka juga mengikuti kajian kitab kuning.

Selain memasak, santri juga bisa membeli makanan di kantin atau warung di sekitar pondok Lirboyo. Warung-warung itu juga menjual aneka makanan dan lauk.

Hasanudin, 17, santri kilatan asal Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri mengaku usai masak ia segera salat Asar berjamaah. Setelah itu bergegas mengambil kitab kuning miliknya. Bersama puluhan temannya ia kembali menyimak isi kitab bertulisan huruf Arab sambil mendengarkan suara kiai yang menerjemahkan tulisan itu menjadi bahasa Jawa melalui pengeras suara.

“Saya menjalani rutinitas ini hingga menjelang Lebaran, dan saat pulang nanti akan membawa ilmu baru ke rumah,” tuturnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita terkini #berita viral #berita terbaru #berita hari ini