Beberapa benda kuno yang ditemukan itu berupa empat batu berbentuk lumpang. Saat warga menggali di dekat penemuan empat lumpang itu, mereka menemukan reruntuhan batu bata kuno, dua batu besar, dan batu berukir ukuran sedang yang bentuknya seperti atap candi.
Penemuan ini menjadi yang kesekian kalinya di Desa Klampisan. Sebelumnya juga pernah ditemukan benda berbentuk lumpang maupun serpihan batu bata kuno. Meskipun yang ditemukan lebih dulu bentuknya tak serapi seperti penemuan terbaru.
“Memang sering ditemukan (barang kuno),” kata Kepala Desa Klampisan Mohammad Fajri.
Kini, batu berukir yang ditemukan telah dibawa ke punden Sariglatik. Sementara benda-benda yang lain tetap di tempatnya karena warga tak kuat membawa saat akan dipindah ke punden.
Fajri berharap dinas Kebudayaan dan pariwisata (disbudpar) turun tangan. Namun, benda-benda bersejarah itu tidak dipindah dari desanya. “Setidaknya dikumpulkan jadi satu namun tetap di desa. Karena itu adalah bukti sejarah yang ada di sini,” harap sang kades.
Pegiat Budaya Kementerian Pendidikan Kebudayaan Ristek dan Teknologi (Kemendikbudristek) Novi Bahrul Munib punya teori tentang penemuan itu. Menurutnya, benda kuno itu berasal dari zaman Majapahit.
“Dari konteks temuan angka tahun di miniatur candi yang sekarang di pura, iya (merupakan) masa Majapahit,” terangnya.
Ketua Komunitas Pelestari Sejarah Kadhiri (Pasak) itu juga membenarkan bila di Desa Klampisan sering ditemukan reruntuhan bangunan bersejarah. “Daerah situ padat peninggalan masa kerajaan. Dari Surowono sampai Klampisan penuh temuan masa kerajaan,” ungkap pria yang biasa disapa Novi ini.
Sementara, Suyatno, 47, warga setempat, menerangkan bahwa temuan benda bersejarah itu berada di lahan bengkok kepala dusun. Persisnya di gundukan tanah di tengah area persawahan. Rimbun dengan tanaman-tanaman liar. Ketika lahan hendak diolah, satu per satu artefak terlihat.
“Dulunya putukan amba (gundukan tanah yang luas, Red). Dicangkuli sedikit demi sedikit untuk diolah,” terang lelaki yang kesehariannya adalah pembajak sawah ini.
Awalnya, artefak yang ditemukan hanya empat buah lumpang. Satu lumpang kemudian digeser. Dijadikan penanda batas sawah. Saat warga menggali mereka menemukan tumpukan batu bata lawas. Juga benda-benda lain seperti yang dijelaskan di bagian awal berita ini.
Sebenarnya, warga ingin semua artefak dipindah ke punden Sariglatik. Sayang, karena ukurannya yang berdiameter sekitar satu meter, warga tidak mampu memindahkan benda tersebut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah