Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

5 Budaya dan Makanan Khas Tradisional Ini Sah Milik Kabupaten Kediri

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 6 Maret 2023 | 18:31 WIB
(Ilustrasi: Afrizal)
(Ilustrasi: Afrizal)
Pemkab Kediri mematenkan lima budaya dan makanan khas tradisionalnya. Meski budaya dan makanan tersebut juga banyak didapati di daerah lain, mereka tak khawatir dituduh mencaplok. Alasannya, yang berkembang di Bumi Panjalu memiliki kekhasan.

Kesenian yang hak patennya milik Kabupaten Kediri adalah jaranan Jawa, tiban, wayang krucil, serta dua makanan tradisional tiwul dan getuk lindri. Beberapa budaya dan makanan itu juga banyak ditemui di daerah lain. Misalnya, tiwul yang juga dikenal sebagai makanan khas dari Gunung Kidul, Jogjakarta. Hingga getuk lindri yang jadi makanan khas Magelang, Jawa Tengah.

Demikian pula seni tiban dan jaranan Jawa yang lekat dengan masyarakat Jawa Timur. Karenanya, langkah mematenkan beberapa kesenian dan makanan tradisional ini sempat menuai pro dan kontra. Hingga muncul perdebatan tentang Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) atas nama Kabupaten Kediri, tak ubahnya mencaplok seni dan makanan tradisional yang juga berkembang di daerah lain.

Terkait hal ini, Pegiat Komunitas Budayawan Eling Handarbeni Hangrungkepi Upaya Madya (Edhum) Achmad Zainal Fachris menyebut, langkah yang diambil Pemkab Kediri untuk mematenkan kesenian dan makanan tradisional yang lekat dengan Kediri itu tepat. “Budaya itu punya unsur universal. Termasuk pengetahuan tradisional,” aku pria yang kerap disapa Fachris tersebut.

Seperti kuliner tradisional, guru MAN II Kota Kediri ini meyakini telah terjadi penyebaran budaya. Meski demikian, tiap daerah memiliki ciri khas. Termasuk getuk lindri dan tiwul yang dipatenkan oleh Pemkab Kediri.

Menurutnya, pematenan seni dan makanan tradisional itu bukan main klaim atau mencaplok seni dan makanan tradisional di daerah lain. Melainkan memiliki rujukan. “Yang perlu diingat, Bumi Panjalu itu merupakan kerajaan tua. Jadi pusat peradaban yang adiluhung,” lanjutnya.

Jika di era modern seperti sekarang rujukan budaya Jawa adalah Keraton Jogjakarta dan Keraton Solo, di masa silam bisa saja kiblatnya berbeda. Yakni, ke kerajaan yang lebih tua.

Dengan konsep budaya yang universal, Fachris menilai aktivitas budaya bisa saja berkembang di daerah lain, tapi mulai pudar dan tidak populer di daerah asalnya. “Yang saya yakini, pasti ada keunikan dan ciri khas sendiri (kesenian dan makanan tradisional yang dipatenkan Pemkab Kediri, Red),” tuturnya.

Senada dengan Fachris, Komite Tari dan Jaranan Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK4) Deki Susanto menyebut, jaranan Jawa yang juga sering dipentaskan di daerah lain di Jatim, berbeda dengan yang di Kediri. “Di Kabupaten Kediri, jaranan Jawa itu tarian ritus,” bebernya tentang kesenian yang lakonnya tentang Sri Sedono dan dipentaskan dengan alat musik sederhana itu.

Yang tidak dipentaskan di daerah lain, menurut Deki adalah ritual lebet dan njawi. Di Kabupaten Kediri, jaranan Jawa tidak hanya dipentaskan saat panen raya, buka giling, atau bersih desa. Melainkan, disandingkan dengan tarian tiban yang juga baru saja dipatenkan. “Di Kediri, tarian tiban juga punya cerita,” urai Deki tentang tarian meminta hujan yang di Kediri muncul pada masa Prabu Dandhang Gendhis atau Sri Maharaja Kertajaya itu.

Khusus untuk tiwul, menurut Deki juga berbeda dengan daerah lain. Sebab, di Kediri rasanya pedas. Pegunungan Wilis yang dingin membuat nasi tiwulnya dipadukan dengan sayur yang pedas. Demikian pula saat digoreng. “Yang didaftarkan tiwul goreng, tapi yang keluar dari Kemenkumham tiwul secara umum,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Sonny Laksono menyebut pematenan sejumlah seni dan makanan tradisional itu tidak ada masalah dengan daerah lain. “Karena semua sudah melalui proses yang dipersyaratkan Kemenkumham. Jadi tidak ada caplok mencaplok, yang keberatan bisa mempertanyakan langsung ke Kemenkumham,” tandasnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita terkini #berita viral #berita terbaru #berita hari ini