Setelah melakukan pemanasan, mereka kemudian mengambil leang-leong, alat tarian berupa ular naga. “Saat ini jumlah anggota kami ada 20 hingga 25 orang,” terang Halim Prayogo, pelatih kelompok barongsai.
Halim menjelaskan bahwa jumlah anggota setiap tahunnya mengalami penurunan. Sebelum pandemi jumlahnya mencapai 50 orang. Akibat kosong kegiatan selama pandemi, jumlah anggotanya pun menyusut.
Bahkan, dari jumlah yang sedikit itu, anggota aktif tak sampai menghabiskan hitungan jari di kedua tangan. Hanya sembilan anak, yang sebagian sudah berlatih sejak usia sekolah dasar. “Jika awal mulai dibentuk saya kurang tahu, karena saya baru bergabung pada tahun 2004,” akunya.
Pertama kali bergabung, laki-laki beralamat di Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren ini masih kelas 8 SMP. Kini ia menjadi penerus, yang melatih para penari barongsai.
Karena bergabung sejak belia, Halim bisa merasakan perbedaan pola perekrutan anggota. Di masanya, ia dan teman-temannya dilatih sangat keras. Sedangkan saat ini tidak sekeras dulu.
Hal itu juga dipengaruhi model peralatan yang digunakan. Saat itu, kepala naga bisa seberat 10 kilogram. Tidak seperti sekarang yang hanya 2,5 kilogram. “Dengan berat kepala naga zaman dulu gerakannya hanya bisa berlari-lari saja. Kalau sekarang gerakannya lebih bervariasi,” kata Halim.
Selain itu, gerakan barongsai era dulu lebih ekstrem. Karena itulah oleh pelatih mereka dikuatkan. Tak hanya fisik tapi juga mental. Seperti kemampuan melompat dari ketinggian. Meskipun saat ini inti gerakan sebagian masih sama, namun tingkat ekstrem berkurang.
Dibandingkan dengan zamannya, anak generasi saat ini jauh lebih cepat memahami materi. Karena dari tahun ke tahun dilakukan inovasi agar lebih mudah dipahami. Kalau dulu satu gerakan perlu latihan berbulan-bulan, sekarang hanya dalam hitungan minggu.
Saat ini anggota paling kecil kelompok ini duduk di bangku SMP. Tidak ada yang usia SD. “Mungkin karena orang tua menganggap yang SD ini masih terlalu kecil, sehingga mereka khawatir,” ujar laki-laki asal Surabaya ini.
Namun sebenarnya dalam bermain barongsai terdapat beberapa tahapan. Mulai tahap belajar hingga siap tampil. Karena itu, meskipun usia SD sebenarnya tetap bisa berlatih sesuai kemampuan.
Jika anggota paling kecil masih SMP, anggota paling besar sudah banyak yang bekerja dan kuliah. Yang usia kerja ini sekitar 20 hingga 25 tahun. Bagi Halim, anggota yang bergabung yang penting memiliki semangat dan keinginan belajar.
Dalam seni barongsai tidak hanya belajar tentang seni, namun juga ketahanan fisik. Yang menjadi kendala selama ini kebanyakan anggota yang tidak kuat berhenti di tengah. Sehingga saat merekrut anggota baru harus dilakukan penyesuaian kembali.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah