Bagi Benny Widyo Pratama, seni tak sekadar wadah berekspresi. Lebih dari itu, berkesenian juga membuka ruang bersama (kolektif) yang produktif. Membuka jejaring sosial. Bahkan, jika dikelola baik, seni dapat menumbuhkan geliat ekonomi masyarakat sekitar. “Kesenian tidak bisa dipisahkan dari masyarakat. Mereka adalah bagian dari masyarakat,” ucap kurator seni kontemporer asal Tulungagung itu.
Untuk itu, Benny-sapaannya-tertarik terjun sebagai kurator seni. Ia terlibat dalam pengelolaan event atau pameran seni sejak 2014. Bermula saat kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Kemudian sekarang melanjutkan jenjang pendidikan magister di Jurusan Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada. Selama berkarir, puluhan acara kesenian baik nasional dan internasional berhasil digelarnya.
Pengalaman itu membawa Benny ditunjuk menjadi suksesor program kesenian yang dihelat Biennale Jawa Timur. Yakni pagelaran seni terkemuka di Indonesia. Benny mengemban tugas berkeliling ke daerah-daerah di Jatim. Kegiatan tersebut bertujuan mengembangkan ekosistem seni di kota dan kabupaten.
Spesifiknya daerah yang notabene minim ruang berekspresi. Terdapat 115 program kesenian yang dicanangkan saat itu. “Dari sini, saya mendapat banyak jejaring pelaku seni daerah,” tutur kurator yang juga bekerja sebagai desainer grafis dan fotografer itu.
Selain membangun jejaring, Benny juga melakukan riset penelitian. Ia mencari data untuk tesis S2-nya di UGM. Fokus penelitian menggali imajinasi ekosistem seni di Jawa Timur. Serta menelaah respons pola kerja selama Biennale berlangsung. Terlebih menyangkut pada konsep manajerial atau tata kelola ruang seni di daerah terkait. “Kami juga membuka ruang kolaborasi antarpelaku seni,” jelasnya.
Ketertarikan pada profesi kurator seni membawa Benny membangun komunitas di Tulungagung. Bernama Gulung Tukar. Kelompok ini mengusung visi yang eksperimental. Yaitu mengembangkan kesenian kolektif multi-disiplin. Mewadahi pelaku seni secara keseluruhan tanpa mengotakkan jenis media dan disiplin seni.
“Wadah ini awalnya dibuat agar pelaku seni bisa berkolaborasi secara universal. Melebur bersama. Baik seni tradisional maupun kontemporer seperti seni grafis hingga instalasi seni. Tentunya melibatkan semua elemen masyarakat. Bahkan kami juga menggandeng seniman disabilitas,” ucapnya.
Tak pelak, eksperimen ini dilirik beberapa komunitas seni luar negeri. Benny telah menggandeng beberapa komunitas dari Belanda dan Jerman. Mereka sengaja berkunjung ke Tulungagung untuk bertukar ide dan menampilkan pertunjukan seni. “Bulan depan (Januari, Red) kami akan berkolaborasi dengan institut seni dari Inggris,” terang peraih Silver Award instalasi umum pameran museum nasional itu.
Benny mengaku antusias dengan keberadaan Selasar Seni Daha. Menurutnya, acara yang digagas Jawa Pos Radar Kediri bersama Pemkot Kediri itu selaras dengan visinya. Yakni membuka ruang multi-disiplin seni secara kolektif. Ia berharap acara ini bisa membangun keharmonisan pelaku seni terkhusus di kota tahu, Kota Kediri. Editor : Anwar Bahar Basalamah