Seperti penampilan terdahulu, Didik sukses memadukan gerak tari dengan ekspresi wajah yang demikian apik. Kepiawaian Didik itu beberapa kali mengundang tepuk tangan dan decak kagum penonton yang berkumpul di pelataran Gua Selomangleng.
Membawakan tarian kontemporer bertajuk Pancasari, Didik mengawali pentasnya dengan memakai dress berwarna merah muda. Lengkap dengan sanggul khas Cina dan kacamata berbentuk bintang yang menutupi sebagian besar wajahnya.
Tanyan kanannya menenteng tas anyaman berwarna biru. Dengan gemulai dia menggambarkan pengaruh budaya luar terhadap nusantara. Sekitar lima menit menari kontemporer, Didik langsung mengeluarkan selendang dengan gradasi warna pelangi. Selendang yang di ujungnya terdapat tongkat ini langsung digerakkan dengan lincah. Dia membawakan tari pita asal Cina.
“Tari pertama menggambarkan pengaruh Cina dengan tari selendang yang menggambarkan awan,” kata Didik tentang tariannya ditemui seusai pentas sembari menyebut bentuk awan selalu berubah-ubah, sedangkan selendang menggambarkan gerakan ombak.
Tak hanya membawakan tari pita, Didik juga membawakan beberapa tari tradisional. Yakni, saat dia memakai topeng panji dan mengubah tatanan rambutnya menjadi konde tradisional Jawa. Dia juga melengkapi penampilannya dengan kebaya warna hijau.
Hanya dalam waktu lima menit, Didik yang semula memakai topeng Dewi Sekartaji langsung berganti dengan topeng aluminium dan rambut bergaya warna-warni. Tari gemulainya pun berubah menjadi gerakan robot.
Memakai sepatu flat, Didik mampu menggelinding seolah memakai sepatu roda. Sekitar lima menit berselang, dia berubah menjadi sosok jenaka. Hanya dengan melihat wajahnya saja, para penonton langsung tertawa terbahak-bahak. Rupanya, saat itu Didik membawakan kisah Entit dan Ragil Kuning lengkap dengan topengnya.
Sambil memeragakan tarian yang jenaka, Didik juga menghampiri penonton untuk berinteraksi. Pada tarian terakhir, kebaya warna hijau berganti menjadi atasan crop top dipadu dengan rok selutut. Topengnya juga diganti menjadi topeng monyet dengan rambut berwarna hijau.
Tarian yang menceritakan tentang Kethek Ogleng dan Endang Roro itu juga merupakan salah satu episode cerita Panji. “Seperti yang saya katakan, kita harus belajar dan belajar, seperti nenek moyang kita yang luar biasa menerima pengaruh budaya luar dan menjadi bentuk akulturasi,” beber Didik meminta anak muda menyikapi pengaruh budaya luar.
Pria asal Jogjakarta tersebut mengungkapkan, dalam pentasnya kemarin dia membawakan tarian yang sudah jadi. Hanya saja, dia sedikit mengubah karakter tokoh yang dibawakan. Misalnya, tokoh Dewi Sekartaji, Entit, dan Ragil.
Jika ke depan diundang lagi, Didik berharap bisa menggambarkan sosok Panji yang komplet. Karenanya, dia meminta agar undangan tidak datang mendadak. Sehingga, dia bisa melakukan persiapan yang panjang.
Untuk diketahui, selain Didik, kemarin juga ada penampilan dari sejumlah penari lokal Kediri dan beberapa daerah lain di Jatim. “Selain dari Kediri, yang melakukan performance hari ini (kemarin, Red) ada dari Jogjakarta, Ponorogo dan Malang,” terang Kepala Disbudparpora Kota Kediri Zacrie Ahmad. Editor : Anwar Bahar Basalamah