Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sucikan Alam, Umat Hindu Kota Kediri Gelar Mecaru

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 15 Agustus 2022 | 22:01 WIB
SUCIKAN  ALAM:  Umat Hindu  mengikuti  ritual Bhuta  Yadnya  Mecaru di  kompleks Gua  Selomangleng. (Foto: Wahyu Adji)
SUCIKAN ALAM: Umat Hindu mengikuti ritual Bhuta Yadnya Mecaru di kompleks Gua Selomangleng. (Foto: Wahyu Adji)
KOTA, JP Radar Kediri –Puluhan umat Hindu Kota Kediri mengikuti Bhuta Yadnya Mecaru di kompleks Gua Selomangleng, kemarin. Diisi tari-tarian, rangkaian ritual yang bertujuan untuk menyucikan alam itu dilakukan secara khidmat.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kediri Ni Made Susilawati mengatakan,  upacara Bhuta Yadnya Mecaru ini biasa digelar setiap tahun untuk memperingati 1 Sura. Hanya saja, acara yang biasa digelar di Pura itu ganti dilaksanakan di kompleks Gua Selomangleng. “Mecaru ini bertujuan untuk membersihkan alam atau menyucikan area Gua Selomangleng

Perempuan yang akrab disapa Made itu menjelaskan, ritual yang juga disebut Pemarisuda Bumi ini memang bertujuan menyucikan alam. Yakni, dengan cara mengharmonisasikan buana alit atau manusia dengan buana agung atau alam semesta.

Photo
Photo
SUCIKAN ALAM: Ketua PHDI Kota Kediri Ni Madi Susilawati menari Rejang Dedari.

“Kami menjaga hubungan baik dengan Tuhan, alam, dan sesama makhluk hidup dengan cara pemarisudha ini,” terang perempuan yang tinggal di Mojoroto ini.

Upacara kemarin, menurutnya sekaligus juga bentuk terima kasih kepada alam karena sudah memberi kehidupan kepada umat manusia. Di antaranya, dengan memberi hasil bumi berupa sayuran, buah-buahan, dan hasil bumi lainnya.

Mengapa Gua Selomangleng yang dipilih? Menurutnya Gua Selomangleng tidak hanya jadi ikon Kota Kediri. Melainkan juga jadi tempat bersejarah bagi warga Kota Tahu. Khususnya umat Hindu. Sebab, di tempat tersebut dahulu Dewi Kilisuci pernah bertapa.

“Upacara (di Gua Selomangleng, Red) juga sebagai bentuk penghormatan umat Hindu kepada leluhur,” urai perempuan yang tetap cantik di usia senjanya itu.

Untuk diketahui, mecaru atau doa dalam ritual pemarisudha bumi kemarin diawali dengan tarian Rejang Dedari oleh anggota Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Kota Kediri. Selain tarian yang merupakan ungkapan rasa syukur itu, umat juga melakukan sembahyang dipimpin oleh Pemangku Joko. Selanjutnya, ritual ditutup dengan tarian terakhir untuk menyambut para pengunjung yang kemarin memadati kompleks Gua Selomangleng.

Made berharap, ritual tersebut bisa digelar tiap tahun. Tidak hanya untuk menyucikan alam, acara yang digelar PHDI itu menurutnya juga bisa menarik minat pengunjung untuk datang ke Selomangleng.

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, ritual yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga pukul 11.00 kemarin memang jadi perhatian pengunjung. Selama sekitar dua jam para pengunjung tak beranjak dari kompleks Gua Selomangleng.

Mereka menyaksikan seluruh rangkaian acara hingga selesai. Begitu rombongan anggota PHDI meninggalkan lokasi, barulah para pengunjung tersebut naik ke kompleks gua yang memang selalu ramai dikunjungi orang di akhir pekan. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #budaya #radar kediri news #ritual #hindu #info kediri #berita terbaru #kebudayaan #ritual mecaru #umat hindu #gua selomangleng #sucikana alam #mecaru #ksbsr kediri #berita kediri #phdi kota kediri #tradisi #umat hindu kota kediri #kota kediri