Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mading 3D SMPN 3 Kota Kediri Curi Perhatian di Final Party School Contest 2025, Angkat Tema “Membaca Dunia Mengubah Masa Depan”

Hilda Nurmala Risani • Jumat, 31 Oktober 2025 | 18:25 WIB

ALL OUT: Pemenang beberapa kategori Mading Wars tingkat SMP menunjukkan plakat dan trofi dalam awarding Minggu (26/10) lalu
ALL OUT: Pemenang beberapa kategori Mading Wars tingkat SMP menunjukkan plakat dan trofi dalam awarding Minggu (26/10) lalu

Persaingan ketat Mading Wars juga terjadi di kelompok SMP. Segala upaya dilakukan para kru untuk menarik perhatian pengunjung. Mencurahkan semua ide-ide kreatifnya.

Mading milik SMPN 3 Kota Kediri ini wajar bila menarik perhatian pengunjung yang datang di arena Final Party School Contest 2025. Mading 3D berbentuk globe, bola dunia, itu mengombinasikan elemen yang familiar di masyarakat. Ada pacu jalur, sound horeg, hingga perusahaan rokok PT Gudang Garam. Ada pula visualisasi demo yang berakhir rusuh dan wisata viral di Kediri.

“Miniatur tersebut kami buat supaya bisa menunjukkan bahwa pembelajaran bisa datang dari mana saja. Tidak hanya dari buku tetapi juga dari hal-hal yang ada di sekitar kita,” ujar Oktaviana Dwi Rahayu. Cewek ini adalah ketua tim mading SMPN 3 Kota Kediri.

Gadis 15 tahun itu menerangkan, elemen madingnya menyesuaikan tema. Yaitu ‘Membaca Dunia Mengubah Masa Depan’. Bola dunia dipilih sebagai pusatnya. Menggambarkan betapa luasnya dunia yang bisa dipelajari.

Selama proses pembuatan mading, dia bersama tim juga memanfaatkan barang bekas yang ada di lingkungan sekitar. Salah satunya kertas bekas. Kertas itu mereka jadikan bubur. Kemudian dijadikan ornamen pulau yang ada di seluruh dunia.

Pemanfaatan barang bekas ini juga dilakukan oleh siswa dari MTsN 2 Kota Kediri. Kalau mading milik SMPN 3 Kota Kediri terpilih sebagai best overall, MTsN 2 Kediri bisa menyabet gelar best content.

Mading madrasah ini mencoba mengajak pengunjung melek lingkungan. Terutama untuk generasi Z agar turut berperan mendinginkan panas dan menyembuhkan bumi.

“Kami ingin mengajak para pemuda melek literasi untuk menyelamatkan lingkungan sekitar,” terang Quirina Qurotulaini Ramadhani, salah satu kru.

Siswa kelas 9 itu mengatakan penentuan konsep ini menjadi salah satu kendala mereka. Banyak pertimbangan dari anggota tim. Tema yang dipilih akhirnya harus mengakomodasi semua ide.

Kendala lain, terbatasnya waktu pembuatan juga membuat Quirina dan tim kesulitan membagi waktu. Terlebih di sekolahnya tidak mudah mengurus surat dispensasi.

“Proses pembuatan mading ini yang benar-benar menjadi kenangan. Bagaimana rasa kekeluargaan hingga pemikiran di luar nalar yang ternyata mampu mengantarkan kami menjadi best content,” tandasnya. 

Salah satu pemikiran di luar nalar yang dilalui bersama timnya adalah ketika memanfaatkan baterai litium sebagai penggerak alat robotik. Mengapa demikian? Karena jika harus menggunakan aki biaya yang dikeluarkan terlalu mahal.

Selain MTsN 2 Kota Kediri, ada MTsN 8 Kediri yang juga berhasil meraih gelar best creative 3D. Tim mading ini mampu menerjemahkan tema ‘Literasi’ dengan hal menarik. Yaitu simbol Anomali yang relate dengan era gen Z.

“Simbol Anomali ini mengajarkan bahwa setiap individu harus memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda-beda. Itu untuk mencapai sebuah kemajuan dan perkembangan,” jelas Bahiroh Nabila Fahrani.

Masih menurut Nabila, tema Anomali LiterAction ini juga relevan dengan kondisi negara Indonesia yang kental akan prinsip pluralisme. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman dan keunikan.

Tak hanya itu, bahan dasar yang digunakan juga sukses mencuri perhatian dewan juri. Dia memanfaatkan bahan utama yang berasal dari alam yakni sekam padi. Tentu ini juga mengandung makna filosofis. Di mana sekam padi merupakan limbah dari beras.

“Padi memiliki filosofi kehidupan yang patut ditiru oleh gen Z dan gen Alpha. Yaitu semakin berisi maka akan semakin menunduk. Ketika lebih bisa dan berpengetahuan jangan sombong. Melainkan harus tunduk dan rendah hati dalam menjalani hidup,” katanya dengan melempar senyum.

Selanjutnya, di kategori best performance ada SMPN 2 Nganjuk. Tim mading ini menyajikan hasil karya dari teman jurnalistiknya. Di antaranya yaitu tajuk, opini, puisi, dan cerpen yang murni dibuat sendiri.

“Kebetulan kami membawakan tema ‘literasi sejuta inspirasi’. Yang artinya dengan literasi kita memiliki banyak inspirasi. Ibaratnya dengan membaca buku satu kita bisa mengetahui apa yang ada di dunia,” ujar Cindy Ramdhani Irmawan.

Perempuan berusia 14 tahun itu menerangkan jika ada ciri khas yang mungkin tidak ada di mading tim lainnya. Yakni, adanya arah mata angin yang menjadi petunjuk bahwa dengan berliterasi mampu mengetahui arah yang benar dan salah.

“Sangat berkesan dengan lomba mading ini mengajari cara berkomunikasi yang baik dan benar. Tidak cukup hanya bicara, tetapi juga perlu saling memahami dan mengerti,” pungkasnya.(*)

Editor : Jauhar Yohanis
#school contest radar kediri #mading