JP Radar Kediri – Menjelang penetapan awal bulan Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Indonesia sering kali diperkenalkan dengan dua istilah utama dalam astronomi Islam: Hisab dan Rukyatul Hilal.
Tak jarang, kedua metode ini menghasilkan ketetapan tanggal yang berbeda, yang kemudian memicu diskusi hangat di tengah umat.
Lantas, apa sebenarnya perbedaan mendasar di antara keduanya? Mengapa organisasi kemasyarakatan (ormas) besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memiliki kecenderungan metode yang berbeda?
Rukyatul Hilal: Kesaksian Mata Memandang Langit
Rukyatul Hilal secara harfiah berarti aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni bulan sabit muda yang sangat tipis yang muncul pertama kali setelah fase bulan baru (konjungsi).
Metode ini dilakukan dengan cara melihat langsung ke arah ufuk barat sesaat setelah matahari terbenam pada hari ke-29 bulan berjalan.
Jika hilal berhasil terlihat, baik dengan mata telanjang maupun bantuan alat seperti teleskop, maka malam itu dinyatakan sebagai awal bulan baru.
Namun, jika hilal tidak terlihat karena faktor cuaca (mendung atau hujan) atau posisi hilal masih terlalu rendah di bawah ufuk, maka bulan yang sedang berjalan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
Di Indonesia, metode ini menjadi pegangan utama bagi warga Nahdliyin dan menjadi rujukan dalam Sidang Isbat Pemerintah melalui Kementerian Agama.
Baca Juga: Jadwal Sidang Isbat Idul Fitri 2026: Catat Tanggalnya, Kapan Lebaran 1 Syawal 1447 H Ditetapkan?
Hisab: Kepastian Presisi Lewat Perhitungan
Berbeda dengan rukyat yang mengandalkan pengamatan fisik, Hisab adalah metode penentuan awal bulan menggunakan perhitungan matematis dan astronomis.
Para ahli falak (astronomi Islam) menggunakan rumus-rumus posisi benda langit untuk memprediksi keberadaan hilal secara akurat, bahkan hingga puluhan tahun ke depan.
Salah satu kriteria yang populer digunakan, seperti oleh Muhammadiyah, adalah Wujudul Hilal.
Kriterianya cukup sederhana: asalkan sudah terjadi konjungsi dan matahari sudah terbenam sementara posisi bulan masih berada di atas ufuk (meskipun hanya sedikit di atas 0 derajat), maka esok hari sudah dianggap sebagai tanggal satu bulan baru.
Keunggulan metode ini adalah memberikan kepastian waktu jauh-jauh hari, sehingga masyarakat bisa merencanakan agenda ibadah maupun kegiatan sosial dengan lebih teratur.
Baca Juga: Kejar Lailatul Qadar, Ini 5 Amalan Utama di 10 Hari Terakhir Ramadan yang Tak Boleh Terlewatkan
Mengapa Sering Berbeda?
Titik perbedaan biasanya muncul ketika posisi hilal berada di posisi yang sangat rendah, misalnya di bawah 3 derajat.
Bagi penganut metode Hisab, posisi tersebut sudah cukup untuk menyatakan masuknya bulan baru karena bulan secara matematis sudah "wujud" di atas ufuk.
Namun bagi penganut Rukyat, posisi serendah itu dianggap hampir mustahil untuk bisa dilihat secara kasatmata, sehingga mereka cenderung menggenapkan bulan menjadi 30 hari.
Meski terdapat perbedaan prosedur, kedua metode ini sejatinya saling melengkapi.
Hisab berfungsi sebagai alat bantu untuk memprediksi kapan dan di mana rukyat harus dilakukan, sementara rukyat menjadi sarana verifikasi faktual di lapangan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil