Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Niat Puasa Diucapkan Dengan Hati atau Lisan? Simak Penjelasannya Menurut Ulama

Khansa Dhiya Ramadhania • Sabtu, 21 Februari 2026 | 02:15 WIB

Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan

JP Radar Kediri – Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat. Ibadah ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran, meningkatkan ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Salah satu unsur penting dalam puasa adalah niat, karena niat membedakan ibadah dari kegiatan sehari-hari biasa. Tanpa niat yang benar, puasa yang dilakukan tidak dianggap sah, meski secara fisik seseorang menahan makan dan minum.

Niat Cukup di Dalam Hati

Sebagian besar ulama sepakat bahwa tempat niat adalah di dalam hati,karena yang menentukan sahnya ibadah adalah adanya tekad yang tulus untuk berpuasa karena Allah swt. Niat dalam hati yang benar dan kuat sudah mencukupi sebagai syarat sah puasa, meskipun seseorang tidak mengucapkannya dengan lisan.

Dalam karya‑karya klasik fiqh disebutkan bahwa niat puasa tidak harus dilafalkan secara lisan, teks dan makna yang terpatri dalam hati sudah memenuhi syarat syariat. Ucapan niat lewat lisan lebih bersifat sunnah, sebagai bentuk penguatan tekad hati, bukan sebagai syarat sah ibadah.

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’

فإن نوى بقلبه دون لسانه أجزاه  

Artinya : “Sesungguhnya niat dengan hati tanpa lisan sudah cukup.” (Imam Nawawi, Al-Majmu’, Daarul ‘Âlimil Kutub, halaman 23)

Meskipun niat di hati sudah cukup, melafalkan niat secara lisan tetap dianjurkan (sunnah). Ucapan niat dapat membantu seseorang lebih mantap dan fokus dalam menjalankan puasa.

Dengan mengucapkan niat, hati lebih siap dan konsentrasi dalam menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, atau perilaku yang dilarang selama puasa. Namun sekali lagi, ucapan ini bukan kewajiban, hanya sunnah yang menambah kekhusyukan.

Waktu Niat Puasa

Selain cara berniat, para ulama menekankan soal waktu niat. Niat puasa Ramadhan sebaiknya dilakukan pada malam hari sebelum fajar, yaitu sejak waktu Maghrib hingga menjelang Subuh. Jika seseorang tidak berniat sebelum fajar, maka puasa hari itu tidak sah.

Praktik umum yang dilakukan masyarakat yang mengikuti Mazhab Syafi’i  adalah berniat setiap malam menjelang puasa. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam karyanya, Hasyiyatul Iqna’

ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر

“Disyaratkan berniat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW, ‘Siapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, harus niat puasa di setiap hari (bulan Ramadan) jika melihat redaksi zahir hadits.” (Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Iqna’, juz 2)

Walaupun begitu ada pandangan lain yang memperbolehkan niat sekali untuk keseluruhan Ramadan, seperti Mazhab Maliki.

Menurut Mazhab Maliki, cukup berniat sekali pada malam pertama Ramadhan untuk seluruh bulan. Pendapat ini didasari pada pemahaman bahwa puasa Ramadhan merupakan satu kesatuan ibadah, sehingga tidak perlu memperbarui niat setiap hari.

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Andhika Attar Anindita
#Bulan Ramadan 1447 H #ramadan #Waktu Niat Puasa #hukum puasa #Niat Puasa Ramadan #niat puasa