Lupa Niat Puasa Qadha Ramadhan: Apakah Puasa Tetap Sah? Ini Penjelasan Ulama
Jauhar Yohanis• Minggu, 21 Desember 2025 | 12:31 WIB
Ilustrasi
Lupa niat puasa bisa menyebabkan puasa tidak sah. Niat merupakan rukun puasa. Tanpa niat, puasa tidak dianggap sebagai ibadah, meskipun seseorang menahan lapar dan haus seharian penuh.
Dalam puasa wajib, khususnya puasa Ramadhan, niat harus dilakukan pada malam hari, yaitu sejak terbenam matahari (waktu maghrib) hingga sebelum terbit fajar shadiq (sebelum masuk waktu subuh).
Artinya: “Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Kewajiban Niat Setiap Malam Menurut Mazhab Syafi’i
Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Kâsyifatus Sajâ menjelaskan bahwa:
Puasa Ramadhan adalah puasa wajib
Setiap hari puasa Ramadhan dihitung sebagai ibadah tersendiri
Karena itu, niat harus diperbarui setiap malam
Kesimpulannya, jika seseorang lupa berniat pada malam hari, maka menurut mazhab Syafi’i, puasa pada siang harinya dihukumi tidak sah.
Jika Puasa Tidak Sah, Apakah Boleh Membatalkannya?
Jawabannya: tidak boleh.
Meskipun puasanya tidak sah karena lupa niat, orang tersebut tetap wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa hingga maghrib. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap bulan Ramadhan.
Namun, kewajibannya tidak berhenti di situ. Ia juga harus mengganti (mengqadha) puasa tersebut di hari lain setelah Ramadhan.
Hal ini ditegaskan oleh para ulama, di antaranya Imam Nawawi al-Bantani, bahwa:
Tetap berpuasa pada hari itu hukumnya wajib
Puasa tersebut tetap harus diqadha karena tidak sah
Inilah yang oleh sebagian ulama disebut sebagai “kerugian besar”, sebab:
Sudah berpuasa seharian penuh
Tidak mendapat pahala puasa Ramadhan
Masih harus menggantinya di luar Ramadhan
Solusi Ulama: Masih Bisa Berniat di Pagi Hari?
Meskipun mazhab Syafi’i mewajibkan niat malam hari, ulama tetap memberi solusi bagi orang yang lupa, bukan yang sengaja.
Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmû’ Syarhul Muhadzdzab menjelaskan:
Artinya: Disunnahkan bagi orang yang lupa niat pada malam hari untuk berniat puasa Ramadhan di pagi hari.
Solusi ini didasarkan pada pendapat Imam Abu Hanifah, yang berpendapat bahwa:
Niat puasa Ramadhan masih sah jika dilakukan di siang hari
Selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa
Pentingnya Niat Taqlid Mazhab Hanafi
Karena mayoritas Muslim Indonesia mengikuti mazhab Syafi’i, maka niat di pagi hari ini harus disertai niat taqlid, yaitu mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah.
Hal ini ditegaskan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Al-Fatâwâ al-Fiqhiyyah al-Kubrâ:
Jika seseorang berniat di pagi hari tanpa niat taqlid, maka ia dianggap mencampur ibadah yang rusak menurut keyakinannya sendiri, dan itu hukumnya haram.
Artinya:
Niat pagi hari boleh dan sah
Asal diniatkan sebagai taqlid kepada Imam Abu Hanifah
Jika tidak, puasanya tetap bermasalah menurut mazhab Syafi’i
Penegasan Penting
Solusi niat pagi hari ini hanya berlaku untuk orang yang lupa, bukan:
Orang yang sengaja tidak berniat
Orang yang meremehkan niat
Jika sengaja tidak berniat di malam hari, maka tidak ada keringanan, dan puasanya tidak sah.
Bagaimana Hukum Lupa Niat pada Puasa Qadha?
Puasa qadha Ramadhan mengikuti hukum puasa Ramadhan, karena sama-sama puasa wajib.
Artinya:
Idealnya niat dilakukan sebelum fajar
Jika lupa dan baru berniat ketika ingat (di pagi hari), maka hukumnya sah dengan pendekatan yang sama, yaitu:
Berniat
Memahami niat tersebut sebagai taqlid kepada Imam Abu Hanifah
Dengan demikian, puasa qadha masih bisa terselamatkan bagi orang yang benar-benar lupa.
Kesimpulan
Niat adalah rukun puasa yang tidak boleh diabaikan
Puasa Ramadhan wajib diniatkan setiap malam menurut mazhab Syafi’i
Jika lupa niat:
Tetap wajib berpuasa hari itu
Tetap wajib mengqadha
Ulama memberi solusi:
Berniat di pagi hari
Dengan niat taqlid kepada Imam Abu Hanifah
Hukum ini juga berlaku untuk puasa qadha Ramadhan
Semoga penjelasan ini membantu umat Islam memahami hukum puasa dengan benar dan lebih berhati-hati dalam menjaga niat ibadah.