Khutbah Jumat : Senyum Itu Sedekah. Apa Lagi Membuat Senyum Orang Lain
Jauhar Yohanis• Jumat, 19 Desember 2025 | 12:51 WIB
Photo
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan itulah sebaik-baik bekal dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat.
Jamaah yang dimuliakan Allah, Islam adalah agama yang penuh rahmat, yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama manusia. Salah satu ajaran Islam yang sering dianggap sepele, namun memiliki nilai ibadah yang sangat besar, adalah tersenyum dan membahagiakan orang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa ibadah tidak selalu berbentuk materi. Senyum yang tulus, wajah yang ramah, dan sikap yang menyenangkan dapat bernilai sedekah di sisi Allah. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan dalam hadits lain:
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, meskipun hanya dengan menemui saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim)
Hadirin rahimakumullah, Senyum bukan hanya tentang diri kita. Lebih dari itu, Islam mendorong kita untuk membuat orang lain tersenyum dan merasa bahagia. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah setelah kewajiban adalah memasukkan rasa bahagia ke dalam hati seorang muslim.”
Betapa agungnya ajaran ini. Setelah shalat, puasa, zakat, dan kewajiban lainnya, Allah sangat mencintai hamba-Nya yang mampu menggembirakan sesama muslim.
Membahagiakan orang lain bisa dilakukan dengan berbagai cara:
Dengan ucapan yang lembut, sikap rendah hati, tidak menyakiti perasaan, menolong ketika dibutuhkan, menghormati hak orang lain, dan menjauhi kesombongan. Selama tidak melanggar syariat, semua itu adalah ibadah.
Bahkan dalam sebuah atsar disebutkan:
“Barang siapa membahagiakan seorang mukmin, maka Allah menciptakan dari kebahagiaan itu tujuh puluh ribu malaikat yang memintakan ampunan baginya hingga hari kiamat.”
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbaik dalam hal ini. Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Rasulullah tidak pernah memandangku kecuali dengan senyuman sejak aku masuk Islam.”
Inilah akhlak Nabi. Senyum beliau bukan sekadar ekspresi, tetapi sarana dakwah, penyejuk hati, dan sumber kebahagiaan bagi umatnya.
Karena itu, jangan kita menjadi pribadi yang kaku, bermuka masam, mudah menyakiti perasaan, dan merasa paling benar sendiri. Imam Adz-Dzahabi menegaskan bahwa tersenyum dan tertawa ringan lebih utama daripada menampakkan wajah muram yang membuat orang lain menjauh.
Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang ringan senyum, lapang dada, dan menjadi sebab kebahagiaan bagi orang lain.
أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم