Bolehkah Wanita Haid Masuk Masjid dan Mengikuti Majelis Taklim? Ini Penjelasan Ulama
Jauhar Yohanis• Rabu, 26 November 2025 | 14:25 WIB
Wanita haid, bolehkah masuk masjid?
Pertanyaan mengenai hukum wanita haid atau nifas memasuki masjid dan mengikuti majelis taklim masih menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Dalam fiqih, ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini. Perbedaan pendapat ini wajar, karena masing-masing bersandar pada dalil dan metode istinbath hukum yang berbeda.
Berikut penjelasan ringkas dan komprehensif agar mudah dipahami.
1. Hukum Wanita Haid Membaca Dzikir dan Ayat Al-Qur’an
Menurut ulama mazhab Syafi’i, wanita haid tidak boleh membaca Al-Qur’an dengan niat tilawah, namun boleh membaca lafadz dzikir walaupun berasal dari ayat Al-Qur’an, selama diniatkan sebagai dzikir, doa, atau wirid, bukan sebagai tilawah.
Contoh: membaca
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم, بسم الله الرحمن الرحيم, ربنا آتنا في الدنيا حسنة..., dll.
Maka ibu yang haid tetap boleh berdzikir dan berdoa di majelis taklim, selama tidak menyentuh mushaf Al-Qur’an.
2. Bolehkah Wanita Haid Masuk Masjid?
Dalam fiqih, terdapat dua pendapat besar:
A. Pendapat yang Melarang
Pendapat ini dianut oleh sebagian ulama Syafi’iyyah dan jumhur ulama yang berdalil dengan hadis:
Maksud dari hadis tersebut, Nabi ﷺ meminta Aisyah mengambil sajadah dari dalam masjid, sementara ia sedang haid. Nabi tidak melarangnya memasuki masjid selama tidak mengotori masjid.
Nabi ﷺ hanya melarang tawaf, bukan memasuki masjid atau mengikuti kegiatan ibadah lainnya.
3. Pendapat Ulama Kontemporer
Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihāyatu az-Zain menjelaskan bahwa pendapat yang membolehkan orang junub (dan termasuk wanita haid) masuk masjid dengan berwudhu dapat diikuti:
ومذهب الإمام أحمد جواز المكث في المسجد للجنب بالوضوء لغير ضرورة فيجوز تقليده
Artinya: “Mazhab Imam Ahmad membolehkan orang junub berdiam di masjid dengan berwudhu meskipun tidak dalam keadaan darurat. Pendapat ini boleh diikuti.”
Silakan dipilih sesuai keyakinan. Aka lebih baik memilih yang penuh kehati-hatian