Seksi Peribadatan Takmir Masjid Wakaf Jamsaren Muhammad Luthfi Takim mengatakan, tradisi itu rutin digelar setiap tahun. Tepatnya sehari jelang Maulid Nabi Muhammad. Yakni, di malam hari setelah ibadah salat Isya selesai dilakukan di sana.
“Motivasinya kalau dulu itu agar orang-orang mau ke masjid. Kalau sekarang mungkin motivasinya lain. Tapi pada dasarnya, tujuannya untuk syiar dan tasyakur,” ujar pria yang akrab disapa Gus Luthfi itu.
Adapun koin-koin yang dilemparkan itu beragam. Mulai dari pecahan Rp 200, Rp 500, Rp 1.000, bahkan hingga pecahan uang kertas Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu. Semuanya berasal dari warga sekitar yang mensedekahkan sebagian rezekinya untuk masyarakat.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, masyarakat tumpah ruah di sana. Mulai dari anak-anak, perempuan, hingga laki-laki dewasa. Meski harus berebut, namun mereka nampak larut dalam nuansa kebersamaan yang kental.
“Kalau saya mengambil dawuhnya Pak Lik (KH Douglas Toha Yahya, tokoh agama setempat, Red) itu, bagaimana kita bisa menyenangkan umatnya Kanjeng Nabi. Kan setahun sekali sebagai ungkapan rasa syukur,” ungkapnya terkait tradisi sedekah yang dikemas dengan cara unik itu.
Abdur, 9, salah satu anak-anak yang ikut serta nampak semringah saat membawa segenggam uang di tangannya. Nominalnya bervariasi. Mulai dari koin-koin hingga uang kertas pecahan Rp 2 ribu.
“Mau dicelengi,” katanya, saat ditanya soal mau dipakai apa uang yang berhasil didapatkannya itu.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian