JP Radar Kediri - Rebo Wekasan, atau hari Rabu terakhir di bulan Safar, tahun ini jatuh pada 20 Agustus 2025. Di tengah masyarakat, hari ini kerap dikaitkan dengan mitos kesialan, bencana, atau malapetaka.
Banyak orang pun melakukan berbagai ritual keagamaan untuk menangkal hal-hal buruk yang diyakini akan terjadi.
Mengutip NU Online Jabar, beragam amalan dilakukan pada Rebo Wekasan, mulai dari salat, zikir, hingga membaca doa-doa dan ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’an untuk keselamatan dan perlindungan.
Beberapa kitab klasik juga membahas amalan di hari ini, di antaranya Kanz al-Najah wa al-Surur karya Abdul Hamid Quds al-Makki, Mujarrabat al-Dayrabi, Nihayat al-Zain karya Syekh Nawawi, Na’t al-Bidayah, Al-Jawahir al-Khams, dan Wasilah al-Tahlibin Ila Mahabbati rabb al-Alamin, sebagaimana dikutip dalam kitab Majmu’ah Rasa’il al-Laknawi.
Di kalangan Arab, bulan Safar kadang disebut najiz, karena dianggap membawa kesialan (tasya’um). Namun, anggapan ini ditepis Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya:
Baca Juga: Gaji PNS 2026 Tak Naik, Tapi Pensiunan Tetap Cair! Ini Rincian Tunjangan Lengkap yang Wajib Tahu!
"Tidak ada 'adwa, thiyarah, hamah, shafar, dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sejumlah ulama pun menekankan kata Safar disandingkan dengan al-khair atau kebaikan, dikenal sebagai shafar al-khair, sebagai bentuk optimisme dan harapan akan kebaikan, sehingga mitos kesialan yang melekat pada bulan Safar dapat ditolak.
Selain itu, Rebo Wekasan juga dikaitkan dengan peristiwa penting dalam sejarah para nabi.
Misalnya, Nabi Yunus dan Nabi Yusuf lahir pada hari Rabu, dan Nabi Muhammad mendapatkan pertolongan pada Perang Ahzab juga terjadi pada hari Rabu. Hal ini menegaskan bahwa hari Rabu bukanlah waktu yang membawa kesialan.
Sebagaimana Hadits Qudsi menegaskan:
"Anak Adam menyakiti-Ku karena mencela masa atau waktu. Padahal Aku yang mengatur dan menetapkan waktu. Di tangan-Ku lah segala urusan waktu. Aku yang membolak-balikkan malam dan siang." (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca Juga: Viral Video Guru Beban Negara? Ini Klarifikasi Lengkap Sri Mulyani soal Anggaran Pendidikan
Dari hadits ini, manusia diajarkan untuk tidak mencela atau menghina waktu, karena segala sesuatu terjadi atas izin dan ketetapan Allah. Baik maupun buruk, manis maupun pahit, harus diterima dengan iman kepada qadha dan qadar-Nya.
Dengan demikian, Rebo Wekasan sebaiknya dipandang sebagai waktu untuk beribadah, memperbanyak amalan, dan menebar kebaikan, bukan sebagai hari yang menyeramkan.
Semoga penjelasan ini bermanfaat bagi umat Islam untuk lebih memahami hikmah di balik tradisi Rebo Wekasan. Wallahu a’lam.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira