Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Barikan Pakai Lengkong, Peringatan 1 Muharram di Mojoroto Ini Disebut Ramah Lingkungan

Ayu Ismawati • Sabtu, 28 Juni 2025 | 02:13 WIB

 

Suasana Barikan warga Kelurahan Mojoroto, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Suasana Barikan warga Kelurahan Mojoroto, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Semangat pelestarian lingkungan muncul dalam kegiatan apa saja. Tak terkecuali saat peringatan 1 Muharram atau Suroan dalam konteks kultur Jawa. Seperti yang dilakukan warga Mojoroto ini, menggunakan wadah lengkong saat menggelar barikan atau selamatan di jalanan.

 

Warga RT/RW 01 Kelurahan/Kecamatan Mojoroto punya cara unik dalam memperingati Tahun Baru Islam. Warga menghidupkan kembali tradisi barikan atau syukuran di jalananan tepat pada 1 Muharram kemarin (27/6).

Tapi, barikan itu tak sekadar syukuran dengan menggelar aneka makanan. Melainkan ada nuansa kepedulian pada pelestarian lingkungan. Karena itulah wadah makanan yang dibawah harus yang ramah lingkungan. Yaitu terbuat dari pelepah pisang atau yang biasa disebut lengkong.

Sedikitnya ada 150 lengkong yang dibuat anak-anak muda. Sekaligus untuk mengenalkan tradisi itu ke Gen-Z.

“Sekalian untuk mengenalkan tradisi masa lalu yang saya pikir juga baik untuk diketahui mereka semuanya (generasi muda, Red),” ujar Ketua RT 01 RW 01 Naim.

Menurut sang ketua RT, peringatan 1 Muharram dengan barikan atau doa bersama dan makan-makan di jalan itu juga yang pertama kali dilakukan. Dalam beberapa tahun terakhir peringatan Muharram hanya digelar di komunitas kecil seperti masjid atau musala.

Naim mengatakan, kegiatan ini tak hanya nguri-uri tradisi. Melainkan juga merintis semangat zero waste. Meminimalisasi penggunaan sampah anorganik.

“Ini juga usulan banyak orang. Jadi kami laksanakan bareng-bareng. Lengkongnya juga yang bikin anak-anak muda dalam semalam saja. Dan mereka bilang sebenarnya susah juga membuat lengkong,” bebernya.

Masyarakat juga antusias. Adji Widodo, 58, misalnya. Dia merasa senang dengan upaya menghidupkan tradisi yang lama ditinggalkan.

Kekompakan warga juga tak lepas dari semangat yang ditunjukkan anak-anak muda. Generasi penerus itu dinilai bisa menjadi penggerak masyarakat.

“Ini luar biasa. Kebetulan (ketua) RT-nya juga (anak) muda. Kebetulan pula RT 01 ini juga ditunjuk sebagai lingkungan zero waste. Sehingga dengan semangat kebersihan lingkungan itu saya sangat mengapresiasi,” pujinya.

Lebih-lebih kemarin pertama kali peringatan 1 Muharram dirayakan secara bersama-sama. Biasanya hanya dilakukan doa bersama di masjid-masjid.

“Lengkongnya ini juga bikinnya bersama-sama, kerja bakti. Terus dibagikan ke rumah-rumah,” ungkapnya.

Aning Maria Ulfa, 54, warga lainnya mengatakan sebelumnya anak-anak muda di lingkungan mendata masing-masing rumah. Lengkong yang sudah dibuat secara gotong royong dibagikan di pagi harinya.

“Baru kali ini pakai lengkong. Kalau biasanya ya hanya pakai kotakan biasa (dari kertas kardus, Red),” ungkapnya.

Kepala Kelurahan Mojoroto Achmad Koharudin pun mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya itu menjadi salah satu upaya masyarakat untuk menguri-uri budaya. Apalagi, upaya itu juga digabungkan dengan nilai-nilai pelestarian lingkungan.

“Jadi dalam rangka menguri-uri budaya ada kegiatan barikan. Tapi juga menambah nilai yaitu mendukung kegiatan Pemerintah Kota Kediri dalam mewujudkan zero waste di Mojoroto,” tandasnya. (*)

Editor : Mahfud
#1 Muharram #Lengkong #Barikan