MAKKAH, JP Radar Kediri-Mendekati puncak ritual haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), ribuan jemaah haji Kediri Raya terus mematangkan persiapannya. Termasuk terkait jemaah yang akan mengikuti murur atau melintasi Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan.
Ketua Kelompok Terbang (Kloter) 03 SUB Khoirul Anam mengatakan, jika tahun lalu kuota murur atau jemaah yang melintasi Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan hanya 25 persen, tahun ini dinaikkan. Kuota layanan murur kini mencapai 33 persen.
Merespons perubahan kebijakan itu, Khoirul mengaku sudah mengoordinasikan jemaah yang bisa mengikuti murur. Demikian pula yang tidak masuk ke dalam kuota tersebut. “Kuota (jemaah yang murur, Red) juga sudah penuh,” ungkap pria yang mengoordinasikan jemaah dari Kota Kediri dan sebagian dari Kabupaten Tulungagung itu.
Perubahan mekanisme murur, menurut dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung itu juga sudah disampaikan kepada jemaah. Di saat yang sama dia juga mengantisipasi titik-titik rawan selama puncak ibadah haji. “Dan sudah disimulasikan,” lanjutnya.
Melihat situasi terkini, Khoirul memprediksi pelaksanaan wukuf di Arafah akan relatif lebih aman. Sebab jemaah akan ditempatkan di tenda serta tidak ada mobilitas yang signifikan.
“Tapi kalau sudah di Muzdalifah, nanti proses pendorongan ke Mina pasti butuh antre bersama teman-teman (jemaah lainnya, Red). Sehingga kami selalu mengimbau agar mereka tetap bersama-sama karena di padang. Di lapangan luas yang berkumpul jutaan orang di situ,” jelasnya.
Untuk diketahui, selain bersiap untuk Armuzna, para jemaah juga mulai melakukan penimbangan koper besar mulai hari ini (1/6). Ketua Kloter 05 SUB Hadi Suseno mengatakan, kemarin jemaah sudah mengawali dengan mengemas koper besar.
Ada beberapa ketentuan terkait koper yang harus dipenuhi jemaah. Salah satunya berat maksimal koper hanya 32 kilogram. “Jika melebihi akan dikenakan biaya tambahan. Per kilogramnya 22 Real atau sekitar Rp 95 ribu,” ungkap Hadi.
Mengapa pengemasan koper sudah dilakukan sekarang? menurut Hadi hal itu dilakukan lebih awal karena setelah rangkaian Armuzna para jemaah kloter pertama ini harus segera meninggalkan Makkah. “Jadi memang tidak ada waktu untuk berkemas. Untuk koper besar ini juga berikutnya dikumpulkan,” jelasnya.
Adapun untuk koper kecil masih bisa dibawa oleh setiap jemaah. Meski demikian, mereka harus mematuhi ketentuan berat maksimal tujuh kilogram. Jika melebihi akan diminta mengurangi karena koper akan masuk ke kabin pesawat.
Sementara itu, jelang Armuzna jemaah haji tamattu atau jemaah yang melaksanakan umrah lebih dulu sebelum mengikuti rangkaian ibadah haji, juga membayar dam tamattu. Yaitu dengan menyembelih kambing. Mekanisme pembayaran dam tamattu ini sudah dijelaskan sejak jemaah tiba di Makkah minggu lalu.
Di kloter 46 SUB, Ketua kloter Burhanul Muslimin mempersilakan jemaah melaksanakan dam tamattu sesuai kemantapan hatinya. Berapa harga kambing untuk tamattu? tidak ada patokan secara pasti. Baznas mematok harga kurang dari Rp 3 juta. Sedangkan pemerintah Arab Saudi membanderol 720 SAR atau sekitar Rp 3,5 juta.
Kemarin (31/5) Jawa Pos Radar Kediri berkesempatan melihat langsung penyembelihan hewan yang dikelola KBIHU di Kabupaten Kediri. Penyembelihan dilakukan di sebuah peternakan pinggiran kota. Tempatnya tidak seperti peternakan di Indonesia. Lebih seperti rumah rumah petak.
Di ruangan berukuran sekitar 8x8 meter sudah disiapkan kambing yang akan disembelih. Total ada sekitar 70 kambing yang dipesan. Penyembelihan puluhan ekor kambing itu berlangsung dengan cepat. Hanya butuh waktu 10 menit untuk menyembelih 70 ekor kambing!
"Wah penyembelihannya cepat sekali. perasaan kita kalau di Indonesia ribet saat penyembelihan," ujar Agus Trivianto, jamaah asal Desa Blabak, Kandat, Kabupaten Kediri tak bisa menyembunyikan keheranannya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira