MAKKAH, JP Radar Kediri-Puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) tahun ini akan berbeda dibanding tahun sebelumnya. Terutama terkait teknis layanan yang diterima jemaah haji. Jika sebelumnya disesuaikan dengan kelompok terbang (kloter), tahun ini berbasis syarikah.
Seperti diberitakan sebelumnya, pendorongan jemaah ke Armuzna juga akan dilakukan sesuai dengan syarikah. Ketua Kelompok Terbang (Kloter) 03 SUB Khoirul Anam mengatakan, kebijakan syarikah itu berdampak pada layanan-layanan yang diberikan kepada jemaah. “Semua layanan akan dilakukan oleh syarikah,” kata Khoirul.
Selama di Armuzna, menurut Khoirul jemaah juga akan dikumpulkan berdasar kafilah. Beberapa perubahan itu, diakui Khoirul akan berdampak pada teknis layanan yang diberikan kepada jemaah.
“Di Arafah nanti jemaah akan ditempatkan ke dalam maktab-maktab yang sudah ditentukan sesuai grouping visa,” lanjut pria yang mengoordinasi ratusan jemaah dari Kota Kediri dan sebagian Kabupaten Kediri itu sembari menyebut dasarnya adalah pengajuan visa awal saat di Indonesia.
Lebih jauh Khoirul menyebut pemerintah sudah menyiapkan skema secara detail. Di antaranya, skema perjalanan lontar jumrah untuk jemaah tanazul. Yaitu jemaah yang memilih mabit atau bermalam di Mina.
“Sudah ditata. Termasuk pos-pos penjagaan yang mengarahkan jemaah yang tanazul, ke Mina-nya menuju area lantai berapa. Kemudian kalau yang mabit ketika mau lontar jumrah jalurnya yang mana. Itu sudah disiapkan petugas-petugas di titik-titik pos penjagaan,” terangnya meminta doa kepada masyarakat agar rangkaian di Armuzna lancar.
Untuk diketahui, jelang puncak ritual haji, hari ini ada tiga jemaah Kabupaten Kediri yang berangkat ke Embarkasi Haji Surabaya kemarin. Pesawat rombongan terakhir dari Bumi Panjalu itu dijadwalkan take off di Bandara Juanda Surabaya pukul 02.10 dini hari tadi (31/5).
Kepala Kemenag Kabupaten Kediri Achmad Faiz melalui Analis Haji Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Sulthonuddin Aziz menyebut mereka berangkat ke Surabaya secara mandiri.
Tiga jemaah itu masuk ke dalam kloter sapu jagat atau campuran dari berbagai kabupaten/kota. “Ini kloter terakhir dari Embarkasi Surabaya,” ungkap Sulthon sembari menyebut anggota kloter merupakan jemaah dari berbagai kabupaten/kota di Jatim.
Sementara itu, jelang puncak ibadah haji, area Masjidil Haram sudah penuh dengan jemaah. Karenanya, untuk bisa melaksanakan salat Jumat berjemaah di sana, umat harus antre sejak pukul 08.00.
Kondisi jemaah yang membeludak membuat pengamanan di tempat suci bagi umat Islam itu diperketat. Di setiap sudut jalan menuju area Masjidil Haram, ada askar atau petugas keamanan yang melakukan pengamanan. Bahkan, tentara Arab Saudi juga terlibat di sana.
Baca Juga: City Tour, Jemaah Haji Kabupaten Kediri Napaktilasi
Mereka membuat pagar betis dan sekat-sekat secara khusus. Sejak pukul 07.00 bus atau kendaraan besar yang mengantar jemaah sudah tak terlihat di sana. Sebab, untuk sementara mereka berhenti beroperasi. Yang terlihat hanya lautan manusia yang menuju ke satu titik.
Jawa Pos Radar Kediri juga berangkat ke Masjidil Haram sejak pukul 07.00. Sekitar satu kilometer sebelum area majid, askar dan tentara sudah memasang portal untuk memeriksa dokumen jemaah.
Lolos dari sana, ada pemeriksaan lagi di jarak sekitar 100 meter. “Penjagaannya ketat sekali,” ungkap Alfin, jemaah dari Mojo, Kabupaten Kediri.
Puluhan ribu jemaah sudah memadati area Masjidil Haram meski jarum jam belum menunjukkan pukul 08.00. Beberapa saat kemudian, akses menuju ke area masjid ditutup. Artinya, kawasan tersebut sudah penuh dengan jemaah.
Setiap jengkal yang bisa digunakan untuk salat memang langsung diisi jemaah. Jawa Pos Radar Kediri yang berhasil masuk ke masjid pun harus menempati selasar di dekat kran air zam-zam. Namun, hal itu tidak menjadi masalah asalkan bisa salat Jumat di Masjidil Haram.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira