Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Siapkan Mental jelang Armuzna, Abah Syamsul Pimpin Doa Bersama Jemaah Haji Kediri

M. Mashadi • Jumat, 30 Mei 2025 | 12:00 WIB
Abah Syamsul memimpin doa bersama para jemaah di hotel jelang puncak Armuzna pekan depan.
Abah Syamsul memimpin doa bersama para jemaah di hotel jelang puncak Armuzna pekan depan.

MAKKAH, JP Radar Kediri-Jelang puncak ritual ibadah haji pekan depan, para jemaah memantapkan fisik dan mental untuk bisa melakukan ritual di Arafah, Musdalifah, dan Mina (Armuzna). Seperti kemarin, Direktur Multazam Alhadi Tour and Travel Syamsul Hadi memimpin doa bersama para jemaah di hotel.

Pria yang akrab disapa Abah Syamsul itu mengatakan, doa bersama yang digelar kemarin itu merupakan salah satu persiapan mental dan spiritual jelang puncak haji. "Terutama saat wukuf di padang Arafah, dimana semua doa-doa kita dikabulkan Allah SWT,” kata Abah Syamsul.

Selain menyiapkan berbagai perlengkapan mulai pakaian ihram, niat, dan persiapan lainnya, Abah Syamsul juga meminta jemaah menjaga kesehatan mereka. “Harus istirahat yang cukup. Jemaah juga kami minta memperbanyak doa dan zikir,” lanjutnya.  

 Untuk diketahui, ritual Armuzna memang harus disiapkan secara khusus. Sebelum berangkat ke Arafah, jemaah sudah memakai pakaian ihram di hotel. Selanjutnya, salat sunah ihram, dan berniat untuk ihram.

 Selama di perjalanan, jemaah juga harus menghindari larangan ihram. Mulai mencabut pohon, membunuh binatang, melakukan hal-hal yang terkait dengan syahwat. Serta, mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat, berbuat dosa, hingga berdebat atau bertengkar. "Kami akan terus membimbing jamaah dan sealu mengingatkan larangan larangan tadi," jelas Abah Syamsul yang sudah meminta jemaah untuk bertaubat dan muhasabah diri selama wukuf di Arafah.

 Sementara itu, jelang puncak haji rombongan jemaah dari Kabupaten Kediri kembali tiba di Makkah pada Rabu (28/5) sore. Jemaah yang tergabung di kloter 86 itu mayoritas merjujpakan jemaah risti.

Seperti sebelumnya, para jemaah tidak diturunkan di satu hotel. Melainkan dipisahkan di beberapa hotel. "Tolong carikan istri saya Pak. Ini saya di hotel 1005, saya tidak tahu istri saya diturunkan dimana," pinta Trubus, jemaah asal Badas.

 Selain kondisi jemaah yang terpisah di beberapa hotel, koper jemaah juga belum diketahui keberadaannya. Seperti jemaah sebelumnya, mereka harus menyisir ke beberapa hotel tempat penurunan jemaah secara mandiri karena penempatan koper dilakukan secara acak.

Keresahan jemaah jelang Armuzna terjadi setelah mereka membaca pengumuman dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH). Yakni, tentang edaran dari pemerintah Arab Saudi terkait keberangkatan jemaah menuju ke Armuzna tetap berdasar syarikah dari markas masing-masing jemaah. Sehingga, manifest regu rombongan yang diatur sejak dari tanah air tidak ada artinya.

Jemaah akan berangkat ke Arafah berdasar manifest dari syarikah. Tak peduli siapa saja di dalamnya. Termasuk apakah ada pembimbing di antara jemaah tersebut atau tidak.

Faktanya, banyak petugas kloter dan pembimbing yang beda syarikah dengan jemaahnya. "Sungguh kami khawatir nanti saat wukuf di Arafah tidak ada yang membimbing kami karena tidak disertai pembimbing ibadah," ungkap Arifin, jemaah asal Desa Puhsarang, Kecamatan Semen.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#jemaah haji kediri