MAKKAH, JP Radar Kediri- Satu lagi jemaah haji asal Kota Kediri dilarikan ke rumah sakit. Adalah Parmidi, jemaah haji tertua Kota Kediri itu sempat dirujuk ke Rumah Sakit Al Abeer, Makkah.
Penyebabnya karena gejala lemas dan muntah-muntah yang dideritanya. Beruntung, kondisinya tidak parah sehingga sudah bisa melanjutkan aktivitas ibadah kembali di Tanah Suci.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Kediri A. Zamroni mengatakan, jemaah asal Kecamatan Mrican itu sempat dilarikan ke rumah sakit pada Kamis (22/5) lalu. Setelah serangkaian pemeriksaan tim medis, dia dinyatakan bisa kembali pulang.
“Setelah observasi, tes lab, dan CT scan, beliau diminta pulang lagi. Ternyata masalahnya ada pada kamarnya yang kurang asupan oksigen. Sehingga beliau lemas dan muntah karena saturasi oksigen rendah,” ungkap Zamroni.
Begitu ditindaklanjuti oleh petugas, AC kamar Parmidi memang selalu dimatikan. Karena tidak terdapat jendela sebagai tempat pergantian udara, kamar pun jadi sesak dan bau.
“Akhirnya (oleh petugas) diingatkan untuk selalu menyalakan AC. Kalau kedinginan dimatikan sebentar, lalu dihidupkan lagi agar ada sirkulasi udara di kamar,” beber Zamroni.
Hal serupa disampaikan Ketua Kelompok Terbang (Kloter) SUB 03 Khoirul Anam. Kini, kondisi kesehatan Parmidi sudah membaik. Begitu pula jemaah lain asal Kota Kediri dan Kabupaten Tulungagung di kloternya yang rata-rata dalam kondisi baik.
“Sudah kami edukasi agar AC selalu dihidupkan. Kalau memang kedinginan, dimatikan sebentar baru nanti dinyalakan kembali agar sirkulasi udara tetap terjaga dan tidak berdampak pada pengapnya ruangan dan kondisi badan,” tandasnya.
Sementara itu, wartawan JP Radar Kediri yang saat ini berada di Tanah Suci, M. Arif Hanafi, melaporkan bahwa pemeriksaan di Makkah berlangsung ketat. Ini membuktikan kebenaran dari isu yang beredar di kalangan CJH selama ini.
Dalam perjalanan menuju Makkah tersebut, tercatat sampai lima kali rombongan dihentikan petugas. Mereka melakukan pemeriksaan dengan seksama.
"Baiiyuhhh... padahal di tengah pegunungan gersang kok ada pemeriksaan ya," ujar Arifin, seorang jemaah asal Kediri.
Sejak keluar dari Bir Ali, di setiap jalan yang di atasnya melintas jalan layang, di bawahnya pasti ada mobil polisi yang berjaga. Semakin mendekati kota Makkah semakin lama waktu pemeriksaannya. Lima puluh kilometer sebelum masuk Makkah dua polisi bahkan naik ke bus. Melihat rombongan satu per satu.
"Ternyata benar-benar ketat pemeriksaannya," ujar Kusnani, jemaah kloter 45.
Setelah masuk Makkah, para CJH dipasangi satu gelang lagi sebagai identitas. Selain itu, satu kartu juga dikalungkan ke leher.
Total, menjadi tiga kartu yang menggantung. Satu ID card jemaah haji Indonesia, kartu nusuk yang agak besar, dan kartu alamat hotel.
Ketika masuk ke Masjidil Haram, pemeriksaan juga ketat. Yang datang berombongan pun tak luput dari pemeriksaan itu. Barcode di kartu-kartu jemaah discan. Termasuk barcode yang ada di tangan kami. Hal inilah yang membuat antrean menjadi lama. Pemeriksaan juga masih ada ketika lewaqt gerbang King Abdul Aziz. Setelah lolos baru bisa masuk ke masjid dan melakukan tawah umrah wajib.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira