KEDIRI, JP Radar Kediri - Keterbatasan lahan penjemuran dan ketergantungan terhadap cuaca masih menjadi persoalan yang dihadapi petani dalam proses pengeringan gabah di Desa Tiron, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri.
Ketika musim hujan tiba, proses pengeringan menjadi semakin sulit dilakukan karena petani tidak memiliki ruang penjemuran yang memadai dan harus menyesuaikan waktu dengan kondisi cuaca.
Desa Tiron merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, yang memiliki potensi cukup besar di sektor pertanian. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 14,60 km² dengan jumlah penduduk sekitar 12.974 jiwa. Dari sekitar 300 hektare lahan sawah yang tersedia, sekitar 100 hektare dimanfaatkan untuk budidaya padi.
Secara geografis, Desa Tiron berada di lereng kaki Gunung Klotok dan sebagian besar masyarakatnya menggantungkan penghasilan pada kegiatan pertanian. Potensi tersebut turut didukung oleh keberadaan kelompok tani sebagai wadah koordinasi dan kerja sama masyarakat dalam kegiatan pertanian.
Kondisi tersebut mendorong Eksekutif Keluarga Mahasiswa Fakultas Pertanian (EKM FP) Universitas Brawijaya melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA) menghadirkan Tiron Angeringe, sebuah mesin pengering gabah berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk membantu petani dalam proses pengeringan pascapanen. Inovasi ini memanfaatkan sekam padi sebagai sumber panas dan menggunakan desain modular agar lebih mudah dipindahkan menuju lahan pertanian dengan akses jalan yang sempit.
Program PPK ORMAWA EKM FP UB secara resmi memulai perjalanan programnya pada 26 Mei 2026. Pada tahap awal, tim melakukan persiapan sekaligus mengenali kondisi masyarakat dan kebutuhan petani di Desa Tiron. Hasil identifikasi dan dialog bersama kelompok tani menunjukkan bahwa pengeringan gabah menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petani di Desa Tiron.
Kunjungan awal tim PPK ORMAWA kepada Kelompok Tani Rukun Tani 1 Desa Tiron
Frederick Alden Axelle, Ketua Pelaksana PPK ORMAWA EKM Fakultas Pertanian PSDKU Universitas Brawijaya Kediri, menjelaskan bahwa pemilihan Desa Tiron didasarkan pada potensi pertanian sekaligus kendala yang dihadapi oleh petani dalam proses pascapanen.
"Pada saat musim hujan, lama sinar matahari terbatas sehingga memperpanjang durasi yang dibutuhkan untuk mengeringkan gabah. Kondisi ini membuat petani membutuhkan waktu lebih lama dalam proses pengeringan, terutama ketika gabah yang harus dikeringkan cukup banyak. Ketergantungan terhadap sinar matahari juga menjadi kendala ketika cuaca tidak menentu, sehingga diperlukan alternatif yang dapat membantu petani dalam proses pengeringan gabah ," ungkap Frederick.
Menurutnya, ketidakpastian cuaca menjadi menjadi tantangan serius bagi produktivitas petani padi sehingga penerapan inovasi dan teknologi dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas tanpa bergantung pada penambahan aset.
Berangkat dari kondisi tersebut, Tiron Angeringe dikembangkan dengan memadukan pemanfaatan sumber daya lokal dan teknologi digital. Nama Tiron Angeringe merujuk pada inovasi pengering gabah yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan pascapanen petani di Desa Tiron. Mesin ini memanfaatkan sekam padi sebagai sumber panas, yang berasal dari limbah hasil penggilingan padi dan dapat dimanfaatkan kembali dalam proses pengeringan.
Selain sekam padi, kayu bakar dan gas LPG juga dapat digunakan sebagai sumber panas sesuai kebutuhan pengoperasian mesin. Pemanfaatan berbagai pilihan sumber panas tersebut memberikan fleksibilitas dalam penggunaan alat, terutama ketika ketersediaan sekam atau kondisi operasional membutuhkan sumber panas alternatif.
Penggunaan kayu bakar sebagai salah satu sumber panas pada Mesin Tiron Angeringe
Pada sistem kendalinya, Mesin Tiron Angeringe menggunakan komponen Arduino - ESP32 sebagai sistem automasi dan sensor GY-SHT31 sebagai pembaca suhu dan kelembapan selama proses pengeringan. Suhu pengeringan berada pada kisaran 40–50°C, sehingga kondisi di dalam ruang pengering dapat dipantau secara lebih terukur melalui sistem IoT.
Desain mesin juga disesuaikan dengan kondisi wilayah pertanian Desa Tiron. Konsep modular atau split-connect memungkinkan bagian-bagian mesin dipisahkan ketika alat dipindahkan menuju lahan pertanian. Hal tersebut memudahkan mobilitas mesin menuju area yang memiliki akses jalan relatif sempit.
Dari sisi kapasitas, Mesin Tiron Angeringe ditargetkan mampu membantu proses pengeringan hingga sekitar 1 Kuintal gabah dalam waktu 2–3,5 jam. Kehadiran mesin tersebut diharapkan dapat memberikan alternatif bagi petani ketika proses penjemuran menggunakan sinar matahari tidak dapat berjalan secara optimal, khususnya saat musim hujan.
Penerapan teknologi ini juga disertai dengan kegiatan sosialisasi, demonstrasi, pelatihan pengoperasian, serta pendampingan kepada petani. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, petani diperkenalkan dengan cara penggunaan mesin, pemanfaatan sumber panas, pengoperasian sistem IoT, serta perawatan alat agar dapat digunakan secara berkelanjutan.
Sasaran program adalah petani di Kelompok Tani Rukun Tani Satu, Dusun Babadan, Desa Tiron, dengan target penerima manfaat sekitar 60 petani. Selain penggunaan mesin, petani juga didorong untuk memiliki kemampuan dalam mengoperasikan dan merawat alat secara mandiri sehingga pemanfaatannya dapat terus berjalan dalam kegiatan pascapanen.
Peresmian Tiron Angeringe bersama kelompok tani, perangkat Desa Tiron, dan perwakilan Universitas Brawijaya
Kehadiran mesin pengering gabah ini juga mendapat perhatian dari petani yang menjadi sasaran program. Khoirul Anam, salah satu petani di Desa Tiron, berharap mesin tersebut dapat membantu petani dalam proses pengeringan gabah.
“Harapannya, dengan adanya mesin ini petani bisa lebih mudah mengeringkan gabah karena tempat untuk menjemur terbatas. Apalagi kalau cuaca sedang tidak mendukung atau musim hujan, jadi proses pengeringan gabah bisa lebih mudah dan tidak terlalu terkendala,” ungkap Khoirul.
Dalam proses pelaksanaannya, tim PPK ORMAWA menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah komunikasi dengan petani, terutama karena sebagian besar petani yang menjadi sasaran program berusia lanjut. Kondisi tersebut menjadi perhatian ketika mahasiswa menyampaikan penggunaan teknologi digital dan sistem IoT, sehingga tim perlu menyesuaikan cara penyampaian agar informasi mengenai penggunaan mesin dapat lebih mudah dipahami.
Kondisi jaringan telepon seluler juga menjadi tantangan tersendiri. Lokasi kegiatan yang berada cukup jauh dari jangkauan jaringan membuat akses sinyal telepon seluler tidak selalu tersedia dengan baik. Situasi tersebut menjadi pertimbangan dalam penerapan sistem berbasis IoT di lapangan.
Sebanyak 15 mahasiswa yang tergabung dalam tim inti PPK ORMAWA EKM FP UB terlibat dalam berbagai tahapan program, mulai dari persiapan, koordinasi dengan masyarakat, pengembangan dan pengujian alat, sosialisasi, hingga pendampingan kepada kelompok tani. Pelaksanaan program juga didukung oleh 1 Steering Committee (SC), 4 sukarelawan, serta 1 Dosen Pembimbing, yaitu Bapak Septian Maulana Purnama, S.P., M.P. Program ini diketuai oleh Frederick Alden Axelle Ardianta.
Selain itu, pelaksanaan program mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Tiron, kelompok tani, penyuluh pertanian, penggilingan padi lokal sebagai penyedia sekam, serta pihak teknisi yang mendukung pengembangan dan penggunaan alat.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting dalam proses penerapan Tiron Angeringe di tengah masyarakat.
Mahasiswa tidak hanya membawa teknologi ke lingkungan pertanian, tetapi juga mendampingi petani dalam mengenal dan menggunakan alat sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Bagi tim PPK ORMAWA EKM FP UB, keberlanjutan menjadi bagian penting dari pelaksanaan program. Kelompok tani diharapkan dapat melanjutkan penggunaan dan pengelolaan mesin setelah rangkaian kegiatan selesai. Pengelolaan alat secara mandiri juga diharapkan dapat membuka peluang pemanfaatan mesin secara lebih luas bagi petani di Desa Tiron.
Ke depannya, Mesin Tiron Angeringe diarahkan untuk berkembang sebagai bagian dari layanan mekanisasi pascapanen yang dapat dikelola masyarakat. Penguatan kemampuan petani dan kader teknis diharapkan dapat mendukung perawatan serta pengoperasian alat sehingga teknologi tidak berhenti setelah program berakhir.
Rencana pengembangan selanjutnya juga membuka peluang terbentuknya unit pengelolaan dan layanan penggunaan mesin bagi petani di sekitar Desa Tiron.
Melalui Tiron Angeringe, EKM FP UB berupaya mempertemukan inovasi teknologi dengan kebutuhan nyata petani di Desa Tiron.
Pemanfaatan limbah pertanian, sistem IoT, dan desain modular diharapkan dapat membantu menghadapi keterbatasan lahan penjemuran serta kondisi cuaca yang tidak menentu, sekaligus mendorong petani semakin mampu mengelola teknologi pascapanen secara mandiri.
Editor : Anwar Bahar Basalamah