JP Radar Kediri - Sepuluh tahun sejak dosen ini meraih gelar doktor. Bila dihitung dari masa pengabdiannya, menjadi 32 tahun lamanya sebelum akhirnya meraih gelar guru besar di UNP Kediri. Semua itu dia lalui dengan perjuangan berat nan keras
Senyumnya menenangkan. Raut wajahnya juga teduh. Namun, di balik itu semua tersimpan perjalanan panjang nan berliku. ‘Jalan ninja’ yang harus dia tempuh sebelum mendapatkan gelar profesor. Jabatan akademik tertinggi bagi seorang akademisi.
Ya, butuh sepuluh tahun bagi Mochammad Muchson menyematkan label profesor di depan namanya. Melengkapi titel doktor bidang penyuluhan pembangunan, gelar magister manajemen keuangan, serta dua gelar sarjana strata-1 bidang ekonomi yang sudah dia sandang sebelumnya.
Itu bila dihitung sejak dia menamatkan program S-3. Bila berkilas balik sejak dia mulai mengabdikan dirinya di dunia pendidikan, sudah tiga dekade lebih. Sebab, sejak 1992 dia menjadi dosen ekonomi.
“Meraih gelar guru besar memang tidak mudah,” ucap pria kelahiran Blitar, 18 Desember 1967 ini.
Perjalanan akademik Muchson dimulai dari IKIP Malang, sekarang Universitas Negeri Malang (UM), jurusan Pendidikan Ekonomi. Tahapan yang diselesaikannya pada 1991. Namun, dia merasa bekal akademiknya masih kurang. Karena itu dia kembali mengambil pendidikan S-1 kedua di STIE Kediri jurusan akuntansi pada 1997.
Setelah itu, dosen yang kini menjadi Guru Besar bidang Pendidikan Ekonomi tersebut melanjutkan pendidikan S-2 Manajemen Keuangan di Universitas Wijayaputra Surabaya pada 2001. Gelar doktor akhirnya diraih di Universitas Sebelas Maret Surakarta pada 2014.
Namun lulus S-3 ternyata bukan akhir perjuangan. Justru setelah itu tantangan menuju profesor dimulai.
Baca Juga: KKN-T 39 UNP Kediri Sulap Base Farm KWT Burengan Jadi Taman Edukasi Green Living
Menurut Muchson, salah satu syarat utama menjadi guru besar adalah memiliki publikasi ilmiah internasional bereputasi Q1 atau Q2 yang terindeks Scopus. Persyaratan tersebut menurutnya sangat berat karena proses publikasi jurnal internasional tidak sederhana. “Satu artikel itu bisa sampai dua tahun. Bolak-balik review terus,” akunya.
Sebagai penulis utama sekaligus corresponding author, seluruh proses revisi hingga komunikasi dengan reviewer jurnal internasional harus ditanganinya sendiri. Tidak jarang artikel yang sudah dkirim harus berkali-kali diperbaiki sebelum akhirnya diterima.
Selain membutuhkan kemampuan akademik, proses tersebut juga memerlukan biaya besar. Karena itu, menurut Muchson, perjuangan terbesar justru datang dari diri sendiri. “Kendalanya yang paling sulit itu kemauan diri sendiri. Kadang rasa malas menulis itu muncul,” ungkapnya.
Belum lagi tuntutan untuk terus melakukan penelitian dan menulis artikel ilmiah di tengah aktivitas mengajar sehari-hari. Menurutnya, menjaga konsistensi menulis menjadi tantangan tersendiri bagi para dosen.
Baca Juga: PPK Ormawa Himabio UNP Kediri Kemas Potensi Hutan Tempurejo Jadi Ekowisata dan Produk Herbal
Selain publikasi internasional, syarat menuju profesor juga mengharuskannya aktif dalam berbagai kegiatan akademik lain. Mulai menjadi ketua hibah penelitian hingga membimbing dan menguji mahasiswa program doktoral.
Muchson tercatat beberapa kali menjadi penguji S-3 di berbagai perguruan tinggi. Di antaranya Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Negeri Jakarta.
Meski penuh tantangan, perjalanan panjang tersebut tidak dijalaninya sendirian. Dukungan keluarga menjadi salah satu kekuatan terbesar selama proses menuju profesor.
Menurutnya, sang istri dan anak-anak selalu memberikan perhatian, motivasi, hingga suasana rumah yang nyaman untuk menulis dan meneliti. “Kalau rumah nyaman, suasana menulis juga lebih nyaman,” ujarnya.
Kini setelah resmi menyandang gelar profesor, Muchson memiliki tanggung jawab yang semakin besar. Dituntut terus menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi sekaligus menjadi teladan bagi dosen-dosen muda.
“Profesor itu harus menjadi inspirasi dan agen perubahan,” tegas laki-laki yang punya tah lalat di atas bibir itu.
Dia berharap capaian tersebut dapat memotivasi dosen-dosen muda di UNP Kediri untuk terus mengembangkan karier akademik. Sebab menurutnya, gelar profesor bukan sekadar jabatan. Namun bentuk pengabdian panjang dalam dunia pendidikan.
Sementara itu, Ketua LLDIKTI 7 Jawa Timur Prof Dr Dyah Sawitri SE MM dalam sambutannya berharap Prof Dr Drs Mochamad Muchson SE MM dapat menjadi kekuatan tersendiri bagi UNP Kediri untuk lebih unggul.
“Saya harap UNP Kediri betul-betul mengimplementasikan Permendikti Saintek no 39 tahun 2025 dengan profesor yang baru,” ujar perempuan berhijab ini.
Lebih lanjut Prof Dyah mengatakan bahwa Professor adalah pengerak perubahan yang harus bisa menjamin kualitas demi SDM unggul di Indonesia. “Semoga apa yang menjadi tujuan kita bersama dalam mewujudkan SDM unggul Indonesia emas bisa melalui UNP tercinta,” ujar Prof Dyah mengakhiri sambutannya.
Rektor Universitas Nusantara PGRI Kediri Dr Zainal Afandi, MPd menyampaikan bahwa pencapaian Prof Dr Drs Mochamad Muchson, SE MM ini menjadi semangat baru untuk UNP Kediri. Ia berharap para dosen di UNP Kediri lebih semangat lagi untuk meraih gelar guru besar.
“Saat ini UNP Kediri memiliki dosen eligible guru besar sebanyak 29 orang dan dosen eligible lektor kepala sebanyak 123 orang. Ini merupakan Pondasi tersembunyi bagi UNP Kediri dan program-program studi di UNP untuk bisa dapatkan akreditasi unggul. Harapan saya, 2 sampai 4 tahun lagi UNP Kediri bisa menambah guru besar,” ujarnya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah