KEDIRI, JP Radar Kediri- Bencana alam yang terjadi hampir di seluruh Indonesia menjadi early warning bagi Kabupaten Kediri.
Apalagi belakangan ini beberapa kawasan sudah terjadi longsor dan banjir. Hal ini menjadi perhatian serius Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Kediri, Sulistyo Budi.
Budi -sapaan Sulistyo Budi- menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Kediri perlu ada langkah serius untuk mengantisipasi terjadinya bencana yang lebih besar.
Dia meminta agar dilakukan tindakan yang terukur, bukan sekadar respons ketika bencana sudah terjadi.
Mulai dari pemetaan potensi rawan, edukasi masyarakat, hingga penguatan kapasitas desa dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
Dia mendorong Pemkab Kediri untuk bergerak cepat menerapkan sistem peringatan dini.
“Pemerintah Daerah Kabupaten Kediri harus menjadikan peristiwa ini sebagai early warning untuk mengambil langkah terukur agar bisa menghindari kemungkinan terburuk,” tegasnya.
Menurut Budi, ada tiga langkah mendasar yang perlu segera disiapkan.
Pertama, mitigasi bencana harus dilakukan lebih serius, terutama di titik yang memiliki riwayat banjir, angin kencang, dan tanah longsor.
Kedua, kampanye dan sosialisasi mengenai potensi bencana harus digencarkan di seluruh wilayah, bukan hanya daerah rawan.
Ketiga, desa perlu memiliki Kelompok Sadar Bencana sebagai garda terdepan kesiapsiagaan masyarakat.
“Mendorong terbentuknya Desa Sadar Bencana itu penting, karena kesiapan masyarakat adalah faktor paling menentukan ketika bencana terjadi,” ujar Budi.
Selain ancaman dari cuaca ekstrem, Budi juga menyoroti kondisi pegunungan di Kabupaten Kediri yang semakin memprihatinkan.
Ia menilai pembukaan lahan secara masif untuk berbagai kepentingan membuat kawasan hulu kehilangan daya serap air.
Jika hujan turun lebih dari 12 jam, wilayah bawah berpotensi terdampak banjir maupun longsor. Kondisi tersebut dinilai perlu segera direspons pemerintah daerah.
“Ini sangat berbahaya, karena penggundulan lahan di kawasan pegunungan akan memperbesar risiko banjir dan longsor ketika hujan lebat,” tambahnya.
Untuk mengantisipasi kondisi itu, Budi mengusulkan beberapa langkah strategis.
Pertama, gerakan penyadaran kepada masyarakat sekitar hutan harus diperkuat agar mereka turut menjaga keseimbangan lingkungan.
Kedua, peningkatan taraf hidup masyarakat sekitar hutan perlu dilakukan dengan mengoptimalkan potensi hutan tanpa merusak kelestariannya.
Ketiga, program rehabilitasi dan reboisasi harus terus digalakkan agar kawasan pegunungan kembali pulih.
“Rehabilitasi dan reboisasi harus menjadi program berkelanjutan, karena menjaga hutan berarti menjaga keselamatan warga di bawahnya,” pungkasnya.
Untuk diketahui, di Kabupaten Kediri sendiri sudah ada tim siaga bencana desa. Di setiap titik rawan bencana, BPBD Kabupaten Kediri telah membentuk tim siaga.
Termasuk terkait penyiapan logistik juga sudah ada.
Editor : rekian