Akibatnya, harga beras di pasar melambung tinggi melampaui HET. Seperti beras premium yang seharusnya Rp 14.900 sekarang tembus Rp 17 ribu sampai Rp 20 ribu per kilogram. Inilah yang diduga kuat menjadi penyebab adanya oplosan beras premium. Para pelaku usaha melakukan penyesuaian agar berasnya tetap laku dan tidak melampaui HET.
Baca Juga: Putusan MK Rentan Langkahi Konstitusi, Begini Tanggapan Ketua DPRD Kota Kediri
“Ini yang harus dikaji. Biaya produksinya,” ucap politikus PDI Perjuangan itu kepada Jawa Pos Radar Kediri. Produksinya meliputi, proses panen di sawah, pengeringan, proses gabah menjadi beras hingga packaging dan pemasaran.
Jangan sampai, kebijakan tersebut membuat pengusaha penggilingan tutup karena takut memasarkan berasnya. “Dampak ini sudah dirasakan pelaku usaha penggilingan di wilayah Grogol dan Tarokan,” ucap Dodi yang konsentrasi di bidang kesejahteraan rakyat.
Baca Juga: Didapuk Jadi Ketua DPD PSI Kota Kediri, Reza Darmawan Perkuat Basis Gen Z
Dodi mendukung upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Namun, di sisi lain, perlu mempertmbangkan pelaku usaha yang selama ini berkomitmen menjual beras dengan kualitas premium.
Setidaknya, HET bisa disesuaikan sehingga mereka tidak khawatir untuk menjual beras dengan kualitas baik. Dan pemerintah terus berupaya meningkatkan daya beli masyarakat. Jika itu dilakukan, maka semua akan diuntungkan.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal
Editor : rekian