JP Radar Kediri - Jawa Pos Radar Kediri menggelar diskusi publik Bedah Visi Misi Calon Kepala Daerah Kabupaten Kediri Jumat (4/10) malam.
Acara yang berlangsung di halaman belakang koran terbesar di Kediri Raya ini berlangsung gayeng. Dengan nuansa angkringan yang membuat suasana akrab.
Mengawali diskusi, Direktur Jawa Pos Radar Kediri Kurniawan Muhammad mengatakan, acara tersebut digelar sebagai bentuk pendidikan politik. Berbagai unsur pun turut hadir.
Mulai dari tim pemenangan masing-masing paslon, akademisi, komunitas masyarakat, hingga mahasiswa.
“Ini merupakan implementasi peran dan fungsi media massa. Selain dia menginformasikan peristiwa, kita juga berperan menyediakan platform untuk berdialog, untuk saling brainstorming, dan membangun dialektika politik yang sehat,” ujar Kurniawan Muhammad.
Melalui diskusi bedah visi-misi cakada, Kum—sapaan akrabnya—JP Radar Kediri ingin membantu program dari pemerintah, KPU, maupun bawaslu dalam menghadirkan pendidikan politik. Hal serupa dilakukan terhadap isu-isu lainnya di masyarakat.
Diskusi tidak hanya dihadiri oleh tim pemenangan paslon 01 Deny Widyanarko-Mudawamah, dan paslon 02 Hanindhito Himawan Pramana-Dewi Mariya Ulfa saja. Melainkan juga dipandu oleh dua panelis dari kalangan akademisi.
Yakni, Associate Professor of Public Policy Dr Djoko Siswanto Muhartono MSi, serta Kaprodi Magister Administrasi Publik Universitas Kadiri Dr Imam Fachruddin M.Si.
Djoko Siswanto Muhartono menerangkan pentingnya menyusun visi-misi dan program kerja yang sistematis dan terkonsep.
Gambaran besar berupa visi diturunkan lagi menjadi beberapa misi yang lebih spesifik. Menurutnya, misi bisa disusun dengan rumus sederhana yang terdiri dari perpaduan ‘untuk apa’, ‘bagi siapa’, dan ‘dengan cara apa’.
“Saya lihat semua paslon kelihatannya nggak pakai rumus. Sah-sah saja. Tapi kalau pakai rumus ini, sebenarnya bisa mudah dicerna,” ujarnya.
Sementara itu, Imam Fachruddin menyoroti substansi visi-misi yang harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dua paslon pun cenderung menunjukkan pola yang berbeda dalam menyajikan visi dan misi.
“Incumbent punya kelebihan lewat program sebelumnya yang diklaim sebagai program lanjutan. Sedangkan kontestan baru cenderung membuat sebuah antitesa,” terang Imam.
Sedangkan jika dilihat dari aspek kebijakan publik, masih ada celah partisipasi publik dari visi-misi yang dinarasikan masing-masing paslon.
Dikaji dari aspek kebijakan publik, suatu kebijakan tidak lepas dari konsep utama berupa partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas.
“Sementara partisipasi ini hampir nyaris ada jarak antara partai politik dengan masyarakat. Bahwa partai politik menjadi bagian dari representasi masyarakat, iya.
Tetapi belum ada jaring aspirasi tentang bagaimana mapping secara konstitusi terkait persoalan yang dihadapi masyarakat,” bebernya terkait salah satu pekerjaan rumah aktor politik saat ini.
Adapun dalam diskusi tersebut, turut hadir Ketua KPU Kabupaten Kediri Nanang Qosim, Ketua Bawaslu Kabupaten Kediri Saifuddin Zuhri, serta perwakilan tim pemenangan paslon 01 dan paslon 02.
Mulai dari Lutfi Mahmudiono, Andik Mashudi, dan Vio Debby Saputra dari tim pemenangan 01 Deny Widyanarko-Mudawamah. Kemudian, hadir pula Dodi Purwanto, Pendiwan, dan Wasis dari tim pemenangan 02 Hanindhito Himawan Pramana-Dewi Mariya Ulfa.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah