Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

PSI di Kota Kediri Hanya Meraup Satu Persen Suara

Karen Wibi • Selasa, 20 Februari 2024 | 17:30 WIB
TELITI: Petugas melakukan rekapitulasi suara dari kelurahan di Panitia Pemilihan Kecamatan Pesantren. Penghitungan diperkirakan butuh waktu selama seminggu.
TELITI: Petugas melakukan rekapitulasi suara dari kelurahan di Panitia Pemilihan Kecamatan Pesantren. Penghitungan diperkirakan butuh waktu selama seminggu.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Pamor Presiden Joko Widodo (Jokowi) agaknya tidak berdampak signifikan terhadap perolehan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Kota dan Kabupaten Kediri. Meski sudah mengklaim sebagai partai Jokowi, pun putra bungsu Presiden sebagai ketua umumnya, perolehan suara PSI hanya berkisar satu persen di Kediri Raya.

Berdasar rekapitulasi sementara KPU RI yang dipublikasikan secara online, perolehan PSI Kabupaten Kediri hanya 1,07 persen suara (dari data masuk sebesar 86,27 persen). Sedangkan di Kota Kediri, PSI meraup 1,58 persen suara (dari data masuk 64,25 persen).

Hasil PSI di Kabupaten Kediri berada di bawah Partai Ummat yang meraup 1,88 persen. Suara partai yang dipimpin oleh Kaesang Pangarep ini hanya lebih baik dari tujuh parpol non-parlemen lainnya. Yaitu, Partai Gelora Indonesia, Perindo, Hanura, Partai Buruh, Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Partai Garuda, dan Partai Bulan Bintang. Perolehan suara tujuh partai tersebut di bawah satu persen.

Meski ada keluarga Jokowi di partai nasionalis itu, mereka tak seberuntung beberapa partai pengusung pasangan Prabowo-Gibran lainnya. Misalnya, Partai Golkar yang di Kota Kediri justru bisa meraih lima kursi di DPRD. Naik tiga kursi dibanding pemilu 2019 lalu. Demikian pula DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Kediri yang berhasil merebut kembali kursi ketua DPRD.

Sayang, Ketua DPD PSI Kabupaten Kediri Dian Widi Asmoro belum bisa dikonfirmasi terkait capaian partainya di Bumi Panjalu. Saat dihubungi melalui WhatsApp, tidak dibalas. Telepon Jawa Pos Radar Kediri juga tidak diangkat.

Sementara itu, di Kota Kediri hasilnya juga tak jauh berbeda. Pemilu serentak yang menggabungkan pemilihan Presiden dan anggota legislatif idealnya bisa memunculkan fenomena coat-tail effect. Sederhananya, suara yang didapat oleh figur atau tokoh populer turut memengaruhi perolehan elektoral calon legislatif partai pengusung.

Selain PSI yang tidak mendapat efek ekor jas, Partai Gerindra yang merupakan pengusung utama Prabowo-Gibran, perolehan suaranya juga turun.

Hingga progres rekapitulasi di tingkat kecamatan mencapai 78,39 persen, paslon 2 masih unggul dengan 66,7 persen atau 81.731 suara.

Selain itu, Partai Demokrat yang juga mengusung Paslon 2 juga tak terdampak signifikan. Jika dalam periode 2019-2024, partai besutan Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono ini memperoleh tiga kursi, kali ini hanya dua kursi.

Menanggapi hal tersebut, Dosen Politik Universitas Brawijaya Johan Wahyudi menyebut, Pemilu 2024 memang menunjukkan adanya anomali. Efek ekor jas tidak berdampak signifikan bagi partai pengusung figur populer.

“Dulu waktu Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono, Red) diusung Partai Demokrat, efek ekor jasnya dirasakan betul oleh Demokrat. Bahkan pada pemilu 2009 hampir 100 persen lonjakan suaranya dirasakan,” ujarnya.

Begitu pula pada pemilu era Joko Widodo. Di dua periode itu, PDI Perjuangan sebagai partai pengusung Jokowi juga merasakan efeknya. Sedangkan pada pemilu tahun ini, menurut Johan PDI Perjuangan tetap konsisten perolehan suaranya. Meskipun paslon yang diusung—Ganjar-Mahfud—‘keok’ dalam pilpres.

“Kelemahan parpol kita adalah lemahnya party-ID (party identification) antara masyarakat dengan partai. Yang bisa dibilang cukup tinggi party-IDnya bisa saya bilang PDIP dan PKS,” terang Johan sembari menyebut dua parpol itu konsisten dari satu pemilu ke pemilu lainnya karena dari sisi pengkaderan ketat.

Sebaliknya, pada Pemilu 2024 menurutnya justru terjadi anomali. Partai Gerindra—yang notabene partai milik Prabowo Subianto—belum bisa memenangkan pileg. Secara nasional—lanjut Johan—partai berlambang beringin ini kemungkinan besar berada di peringkat ketiga.

“Saya kira karena, mungkin tersebarnya masyarakat yang memilih partai pengusung mereka tidak melihat partai. Tapi melihat figur. Apalagi didukung swing voter yang kemudian turut memberikan suara kepada Prabowo sebagai figur,” sambungnya.

Pengajar di Program Studi Ilmu Politik Universitas Brawijaya itu menambahkan, pengaruh figur memang sangat berpengaruh dalam menentukan suara parpol. Dalam kasus pilpres tahun ini, sosok Prabowo dirasa kurang begitu merepresentasikan partai tertentu. Alhasil, suaranya terdistribusi ke sejumlah partai pengusung. Karena itu pula, parpol pengusung Prabowo, termasuk PSI, tidak bisa terdongkrak suaranya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#politik #pemilu #psi