Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Nama-nama Petahana Anggota DPRD Kota Kediri yang Tumbang di Pemilu 2024

Ayu Ismawati • Senin, 19 Februari 2024 | 18:20 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri - Selain peta perolehan suara partai politik berdasar rekapitulasi formulir C1 yang bertebaran, simulasi nama-nama anggota DPRD yang akan berkantor di gedung Mayor Bismo juga mulai beredar. Dasarnya, perhitungan suara sementara calon anggota legislatif (caleg) dari tiap parpol peraih kursi. Nama Ketua DPD Golkar Kota Kediri Sudjono Teguh Widjaja dipastikan comeback. Di saat yang sama, sejumlah petahana dipastikan tumbang.

Seperti diberitakan, berdasar perhitungan sementara dari formulir C1, Partai Amanat Nasional (PAN) mendapat lima kursi. Demikian pula partai Golongan Karya (Golkar) yang sama-sama mendapat lima kursi.

Kemudian, partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang sama-sama mendapat empat kursi. Di deretan tengah ada PDI Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang masing-masing mendapat tiga kursi. Terakhir, ada Demokrat, partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang masing-masing meraih dua kursi.

Dari perolehan kursi-kursi tersebut, parpol lantas membuat simulasi nama-nama yang diprediksi akan duduk di kursi legislatif. Misalnya, dari Demokrat ada nama Ketua DPC Demokrat Ashari untuk daerah pemilihan (dapil) Pesantren dan Mistiani di dapil Mojoroto. Keduanya merupakan petahana. “Iya memang (diprediksi, Red) itu,” kata Ashari dikonfirmasi terkait namanya yang masuk sebagai daftar anggota DPRD Kota Kediri periode 2019-2024.

Di pemilihan legislatif (pileg) tahun ini Demokrat memang kehilangan satu kursi. Adalah Hendi Suryo Jatmiko, dari dapil Kota Kediri yang tahun ini tidak terpilih lagi. Terkait hasil tersebut, Ashari menyebut partainya sudah melakukan upaya terbaik. “Kami merasa perjuangan kami sudah maksimal. Kembali lagi tergantung kehendak Allah dan pilihan rakyat,” lanjut Ashari sembari menyebut hasil pileg merupakan dinamika politik yang biasa.

Selain Hendi, ada beberapa nama petahana yang diprediksi “tumbang” di pileg 14 Februari lalu. Di dapil Mojoroto, ada Fadhilah Puspawati dari PDI Perjuangan dan Erita Dewi dari Gerindra. Selanjutnya, ada dua nama baru yang diprediksi masuk. Mereka adalah Arief Junaidi dari Gerindra dan Imam Wihdan Zarkasyi dari Golkar.

Selanjutnya, di dapil Kota Kediri ada nama Harijanto dari PDI Perjuangan dan Hendi dari Demokrat yang tidak akan melanjutkan perjuangan di legislatif. Ada pula Sofyan dari partai Nasdem. Kiprah mereka bertiga digantikan oleh Ricky Dio Febrian (Partai Amanat Nasional), Dody Yustiawan (Nasdem), dan Mukti Wibowo (PKS).

Kemudian, di dapil Pesantren, ada Nurfulaily (PKS) dan Ahmad Abdul Muhtadir yang harus angkat kaki. Dua kursi yang kosong diisi oleh  Sudjono Teguh Widjaya. Anggota DPRD dari Golkar periode 2014-2019 itu berhasil comeback ke legislatif. Ada pula Agung Purnomo dari Golkar yang diprediksi akan merasakan empuknya kursi legislatif. 

Terkait kepastian dirinya kembali ke DPRD Kota Kediri, Ketua DPD Golkar Kota Kediri Sudjono Teguh Widjaja membenarkannya. “Pesantren dapat dua kursi,” kata pria yang akrab disapa Djono itu.

Sementara itu, hingga kemarin rekapitulasi suara di tingkat kecamatan masih terus berlangsung. Hingga pukul 17.00 kemarin, Kecamatan Mojoroto sudah menyelesaikan lima dari 14 kelurahan. Kemudian, Kecamatan Pesantren juga baru lima dari 15 kelurahan. Selanjutnya, di Kecamatan Kota sudah tujuh kelurahan dari 17 kelurahan.

Komisioner KPU Kota Kediri Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan Sumber Daya Manusia Moch. Wahyudi menuturkan, proses rekapitulasi diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama dari prediksi. Sebelumnya, pihaknya menargetkan tahapan ini selesai dalam lima hari.

“Sebenarnya secara tahapan sesuai PKPU rekapitulasi, proses rekap di tingkat kecamatan mulai 15 Februari sampai 2 Maret. Sehingga nanti harapannya sebelum 2 Maret sudah bisa selesai,” ujarnya.

Lamanya proses rekap itu salah satunya karena kendala aplikasi Sirekap. Terkadang, unggahan C-hasil dari KPPS tidak terbaca oleh sistem. Sehingga belum memunculkan data sama sekali untuk dicocokkan di tahap rekapitulasi.

“Ada juga yang proses pembacaan tidak sesuai dengan kondisi di unggahan itu sehingga harus menyesuaikan. Akhirnya itu yang kemudian menjadikan proses rekapitulasi ini menjadi agak lama,” tandasnya.

Sementara itu, terkait hasil penghitungan mandiri masing-masing parpol, menurut Wahyudi formulir C-hasil berupa plano yang dibacakan di tahap rekapitulasi itulah yang akan jadi acuan. “Pada saat nanti ada selisih, entah di Sirekap atau di salinan C-hasil yang dibawa masing-masing partai politik, semuanya nanti akan kembali pada C-hasil atau plano yang dibacakan sebagai sumber utama dari proses penghitungan di tingkat TPS,” tegasnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#politik #dprd #pemilu