JAKARTA, JP Radar Kediri - Menteri BUMN Erick Thohir terus disebut oleh berbagai pihak akan maju sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres) di Pilpres 2024. Menurut Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Ade Reza Hariyadi hal itu membuktikan Ketum PSSI ini mempunyai mesin politik yang kuat.
"Erick Thohir ini mempunyai mesin politik yang bekerja secara efektif dalam mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya," kata Ade, saat dihubungi Senin (18/09/2023)
Menteri andalan dan kepercayaan Presiden Jokowi ini dinilai memiliki banyak dukungan publik untuk menjadi cawapres dalam kontestasi demokrasi mendatang. Hal itu dikarenakan publik percaya dengan kinerja Erick Thohir di pemerintahan bisa membangun negara lebih baik ke depannya.
Diketahui, Ketum Masyarakat Ekonomi Syariah ini berhasil mentransformasi BUMN dan PSSI secara bersamaan sekaligus. Dari itu lah, Erick Thohir mendapatkan banyak simpati dari berbagai kalangan masyarakat akar rumput untuk menjadi pemimpin Indonesia selanjutnya.
"Selain persoalan kinerja, rekam jejak dan capaian Erick Thohir baik dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan itu sangat dilihat oleh publik," ujar Ade.
Maka tak heran, menurutnya Eks Presiden Inter Milan ini memiliki banyak pendukung jika maju sebagai cawapres. Adapun pendukung untuk Erick Thohir mulai dari generasi muda, pengusaha, pecinta sepak bola, kalangan Nahdlatul Ulama (NU), dan pelaku usaha kecil.
Terbukti adanya pendukung tersebut membuat elektabilitas cawapres Erick Thohir terus merajai bursa pilpres di beberapa lembaga survei. Salah satunya PSC periode September, nama Erick Thohir terpantau menduduki posisi teratas dengan hasil 16,8 persen mengalahkan kandidat potensial lainnya.
Tentu ini menjadi modal yang sangat kuat untuk Erick Thohir sebagai cawapres yang memiliki daya tawar tinggi kepada capres siapapun, termasuk Capres Koalisi Indonesia Maju (KIM) Prabowo Subianto.
"Hal ini akan menjadi daya tawar yang signifikan dalam bursa pilpres dan menjadikan Erick Thohir sebagai kandidat potensial yang layak diperhitungkan," pungkas Ade.
Editor : Anwar Bahar Basalamah